SERANG – Sejauh ini pemerintah pusat belum mengungkapkan data resmi terkait peredaran vaksin palsu di wilayah Provinsi Banten. Meski begitu, dinas kesehatan setempat tetap melakukan langkah antisipasi dengan melakukan vaksinasi ulang terhadap ribuan balita.
Kepala Dinkes Banten M Yanuar mengatakan, pendataan sedang dilakukan untuk melakukan vaksin ulang terhadap balita yang terindikasi mendapat vaksin palsu. “Yang sudah masuk ada sekira 1.002 balita, tapi itu masih terus berkembang,” katanya kepada Radar Banten, Sabtu (23/7).
Kata dia, data tesebut diperoleh dari posko yang dibuka di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan (Tangsel). Pihaknya akan melakukan verifikasi ulang terlebih dahulu terhadap balita yang bersangkutan sebelum divaksin ulang. “Itu kan hanya kekhawatiran saja yang membuat mereka mendaftarkan,” katanya.
Kata dia, posko pendataan untuk Kota Tangerang ditempatkan di Puskemas Ciledug dan Rumah Sakit Mutiara Bunda, dan lima posko di Tangerang Selatan. Teknis pelaksanaan vaksin ulang, lanjutnya, akan dilakukan di rumah sakit atau puskesmas sesuai domisili balita yang terdata, pada awal Agustus.
Pelaksanaan juga akan diawasi langsung oleh dinkes kabupaten/kota yang melibatkan dokter anak, Ikatan Dokter Indonesia, dan Perhimpunan Rumah sakit. “Kita akan libatkan beberapa pihak untuk meyakinkan orangtua, dan pemerintah yang siapkan vaksinnya,” kata Yanuar.
Ia mengaku, sejauh ini belum ada laporan dari dampak vaksin yang ada. Namun, untuk menjaga imunitas atau kekebalan pada bayi maka perlu dilakukan vaksin ulang. “Soal efek vaksin, kalau ke tubuh balita belum ada efek jeleknya, tapi karena ada kekhawatiran kalau tidak divaksin ulang balita tidak punya imunitas, kita ambil langkah ini,” katanya. (Supri/Radar Banten/JPNN)










