SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Air Sungai Ciujung kembali berubah menjadi hitam. Kondisi sungai di Kampung Jongjing, Desa Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, itu sudah terjadi selama setengah bulan.
Pantauan dari Jembatan Jongjing, warna air Sungai Ciujung yang biasanya berwarna cokelat atau bening, kini berubah warna menjadi hitam. Dan, ada cairan seperti minyak yang mengambang di atas permukaan air sungai.
Air Sungai Ciujung juga mengeluarkan aroma yang sangat menyengat, bahkan tercium ketika berada di atas Jembatan Jongjing dan sekitar aliran sungai.
Salah seorang warga Kampung Jongjing yang berprofesi sebagai penambang pasir di Sungai Ciujung, Sainam, mengungkapkan jika kondisi tersebut sudah terjadi sejak setengah bulan terakhir.
“Kondisi airnya hitam gini, bau menyengat. Semalem bahkan baunya kecium sampai ke kampung, jadi sangat mengganggu,” katanya, Rabu, 17 Juni 2026.
Tak hanya menimbulkan bau, lanjut Sainam, air Sungai Ciujung juga menyebabkan gatal apabila terkena kulit.
Ia pun menunjukan bercak merah dan bentol di bagian bahu akibat sering terkena air Sungai Ciujung.
“Jadi enggak bisa buat mandi, ini pada gatal di kulit juga. Udah setengah bulanan kayak gini, ikan juga pada mati, bahkan warga juga enggak ada yang mandi di sungai sekarang mah,” ujarnya.
Ia menduga, perubahan warna Sungai Ciujung itu akibat pencemaran limbah pabrik yang dibuang langsung ke sungai. Kondisi ini selalu berulang setiap memasuki musim kemarau.
“Limbah dari pabrik, makanya airnya kayak gini. Akibatnya sekarang warga harus beli air buat nyuci, mampu enggak mampu harus beli sekarang mah, soalnya air sungainya udah ga bisa dipake,” tegasnya.
Ia mengatakan, kondisi air Sungai Ciujung sampai saat ini semakin memperihatinkan.
Sebelum banyak pabrik, tutur Sainam, air Sungai Ciujung menjadi sumber penghidupan masyarakat, airnya dimanfaatkan untuk mencuci bahkan masak. Pengairan sawah hingga tambak juga berasal dari Sungai Ciujung.
Namun, saat air sungai menghitam, masyarakat tak lagi bisa memanfaatkannya.
“Jadi sangat mengganggu aktivitas kami. Sawah yang airnya mengandalkan Sungai Ciujung kan sampai kering itu,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











