LELAKI yang baru saja menikah terkadang bingung menempatkan prioritas antara memenuhi keinginan istri ataupun orangtua. Hal tersebut yang sekarang dirasakan Roby (30), nama disamarkan, yang menikahi Pipi (24), nama disamarkan. Pasangan ini sudah menikah selama dua tahun.
Pipi harus menikmati hari-harinya yang berliku-liku dengan sikap mertuanya. Roby lebih menuruti kemauan orangtuanya yang melarang Roby bekerja. Karena ibu Roby memiliki toko sembako, maka Roby disuruh ibunya untuk menjaga warung sembako tersebut.
“Roby, kamu tidak boleh bekerja, lebih baik bantu ibu saja, jaga toko sembako,” curhat Roby menirukan apa yang dikatakan ibunya.
Roby pun tak berkutik. Setelah sang ibu berkata seperti itu, Roby pun mulai beralasan untuk lepas dari kemauan ibunya. Menurut Roby, hal tersebut sangat berat untuk dilakukan, karena saat menjaga warung sembako Roby tidak mendapatkan gaji sepeser pun.
“Terus, nanti anak dan istri Roby makan dari mana?,” kata Roby lagi.
Saat itu sang ibu menjawab, tinggal diberi sembako yang ada di warung. Begitupun halnya persoalan uang, tapi dengan catatan hanya seperlunya.
Seribu alasan sudah diutarakan Roby untuk lepas dari kemauan sang ibu. Akhirnya Roby pun mengalah dan memilih kemauan sang ibu untuk menjaga warung sembako. Karena di keluarganya, Roby adalah anak sulung, Jadi Roby-lah yang dimanfaatkan sang ibu dalam hal apapun. Untuk tempat tinggal pun harus dengan sang ibu, sedangkan Pipi harus tinggal di kontrakan milik sang ibu yang tidak jauh dari rumah mertuanya.
Bulan demi bulan berlalu, pasangan Roby dan Pipi pun dikaruniai anak perempuan yang sekarang berumur satu tahun. Lama-kelaman Pipi mulai tidak nyaman dengan kehidupan yang dijalani terutama semenjak Roby menjadi penjaga di warung ibunya. Pipi merasakan kekurangan materi, karena materi yang diberi Roby tidak mencukupi. Pipi pun mulai terbuka dengan Roby mengungkapkan unek-unek yang selama ini dipendam.
“Istri saya curhat, tapi mau bagaimana lagi? Saya hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan ibu,” ungkap Roby memasang muka sedih.
Pipi pun tak hanya sekali dua kali berkeluh kepada Roby. Keluhannya sama, akhirnya Pipi mulai terbiasa. Mau bagaimana lagi? Bila Pipi memarahi Roby yang juga suaminya, pasti akan menuai dosa. Namun jika didiamkan, Pipi jadi mati kutu. Pipi pun mencari jalan keluar untuk tidak tergantung dengan Roby dan mertuannya.
Pipi berinisiatif untuk berjualan kecil-kecilan dari hasil uang tabungan saat ia pernah bekerja. Roby pun menyetujui dan membantunya berjualan kecil-kecilan.
“Saat itu saya setuju membantu Pipi berjualan kecil-kecilan,” tutur Roby.
Selang berapa bulan, mertuanya mengetahui Pipi berjualan kecil-kecilan di dekat kontrakannya. Sang mertua hanya bersikap biasa, tidak menujukkan sikap bersalah.
“Ibu cuma tanya, istri kamu jualan kecil-kecilan Rob? Bagus dah kalau gitu. Biar agak ringan pekerjaanmu Rob,” tutur Roby.
Roby pun hanya bisa diam dengan perkataan ibunya. Menurut Roby, tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada istrinya, karena Roby sebagai suami merasa tidak adil atas sikap orangtuanya tersebut. Duh Mas Rob, yang sabar ya. (Iyoey-PPL/Radar Banten)









