MUNGKIN tak pernah terbayangkan kejadian buruk yang dialami Aldo (28) dan Kristin (25), kedua nama disamarkan. Sejak awal pernikahan, pasangan suami istri yang menikah pada 2013 itu terus menerus mendapat cobaan di rumah tangga mereka.
Beberapa bulan setelah menikah, Kristin mengandung anak dari Aldo. Mereka sangat bahagia akan mendapatkan sesosok malaikat kecil pelengkap keluarga. Tetapi pada saat usia kehamilan Kristin menginjak awal delapan bulan, bayi dalam kandungan Kristin tidak bergerak sama sekali. Kekhawatiran mulai muncul pada pasangan suami istri ini.
“Saya panik dengan keadaan saat itu. Nggak tahu harus bagaimana. Saat kejadian itu, Aldo membawa saya ke rumah sakit. Dan hari itu juga diputuskan untuk segera dioperasi,” cerita Kristin.
Kedua pasangan ini mengharapkan bayi yang ada di kandungan tetap bisa hidup, walaupun sebenarnya belum layak untuk dilahirkan. Tak lama setelah bayi mungil keluar dari perut Kristin, bayi itu tidak bernapas. Segala cara dilakukan pihak medis untuk menyelamatkan bayi tersebut, tapi sayang, sang Mahakuasa telah menetapkan jalan lain. Rasa sedih, kecewa, dan marah menjadi satu di benak Aldo dan Kristin.
Kejadian buruk yang menimpa pasangan itu begitu menyakitkan hati keduanya. Selama beberapa minggu mereka tak akur dan lebih banyak diam. Masalah sepelepun menjadi besar karena masih menyimpan emosi di hati
“Sedih banget, saya kecewa dengan hidup ini, begitupun Aldo yang kecewa sama saya. Kita seperti tikus dan kucing dalam satu kandang, selalu bermusuhan. Makan seadanya, bicarapun seperlunya. Tidak seperti awal pernikahan,” katanya lagi.
Perang dingin berlajut hingga bulan ketiga setelah kejadian buruk yang merenggut nyawa anak mereka. Aldo dan Kristin memutuskan mencoba memulai hidup harmonis lagi, walau agak canggung pada saat ingin berbicara satu sama lain. Meski pahit, tetap harus dijalani.
Namun, ketegaran Aldo dan Kristin membuahkan hasil. Kristin akhirnya mengandung anak kedua. Dengan sangat hati-hati dan segenap hati, Kristin menjaga buah hati yang akan jadi penerus keluarganya. Aldo pun tak tinggal diam melihat istrinya yang tengah hamil muda. Apapun yang diminta istrinya pasti ia turuti. Harapan mereka tetap sama, semoga anak yang saat ini dikandung Kristin dapat lahir dengan selamat.
Di bulan ketiga kehamilan Kristin, musibah kembali menimpa. Kristin terpapar sinar X yang memungkinkan cacat fisik pada bayi dalam kandungannya.
“Saya mengunjungi dokter di salah satu rumah sakit Serang. Biasanya hanya periksa ke bidan di kampung. Awal kejadiannya, waktu itu saya menemani ibu untuk rontgen di rumah sakit. Saya nggak paham kalau ibu hamil dilarang menemani. Tapi setelah petugasnya tahu, saya langsung disuruh keluar dan dianjurkan periksa ke dokter secepat mungkin. Saya takut dan panik, tetapi nggak mungkin saya cerita ke Aldo. Saya takut dia marah,” curhatnya.
Ketakutan terus menghantui pikiran Kristin, dan hal itu membuatnya merasa stres. Semakin lama Kristin merasa semakin stres yang justru akan menganggu kondisi sang jabang bayi. Akhirnya ia memberitahu suaminya. Dengan bergetar Kristin menceritakan kejadian itu. Kata-kata kasar tak berhenti keluar dari mulut Aldo. Dengan sigap ia membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa.
“Dokter menjelaskan, sinar X sangat membahayakan bagi ibu hamil, terutama jika sampai terpapar. Apalagi jika usia kehamilan empat bulan ke bawah. Saya semakin takut, karena usia kandungan saya baru tiga bulan. Kata dokter, selain cacat pada fisik, juga dapat menganggu kecerdasan otak anak, karena, di usia itu saraf tubuh bayi sedang terbentuk,” kata Kristin.
Kristin selalu berdoa untuk buah hatinya. Tak peduli apapun kecacatannya, yang penting anaknya bisa lahir dengan selamat. Berbeda dengan Aldo yang mulai cuek dan tidak lagi bahagia dengan kehamilan Kristin. Sikapnya semakin tak beraturan, dia sering emosi dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dilontarkan pada istrinya. Aldo pun memutuskan pergi bekerja keluar kota dan menjauhi Kristin. Ia tak mau ikut menopang beban hidup yang kini diderita istrinya.
Seiring berjalannya waktu, kandungan Kristin semakin membesar. Meski tak ada dukungan semangat dari suaminya, Kristin tetap menjalani kehamilan dengan baik. Semakin mendekati bulan kelahiran, ia semakin was-was. Ia berdebar-debar dan menebak-nebak, kecacatan apa yang akan terjadi pada buah hatinya?
“Saya takut Aldo menceraikan saya karena punya anak cacat. Atau Aldo akan menyuruh saya menitipkan anak ini di panti? Jujur, hanya itu yang saya pikirkan,” jelasnya.
Tapi inilah jalan sang Mahakuasa. Malaikat kecil lahir di akhir 2014 dengan jenis kelamin laki-laki, berat 3,3kg dan tanpa cacat sedikitpun. Mukjizat yang nyata untuk kehidupan Kristin. Tak sia-sia ia menaruh harapan besar untuk anak ini.
“Andaikan Aldo melihat jagoannya, pasti dia akan bahagia. Meski melahirkan tanpa suami di sisi, saya tetap bahagia di sini. Saya berharap Aldo mau melihat anaknya yang tampan seperti rupanya,” tutur Kristin. (Bita-Zetizen/Radar Banten)









