DEPRESI bukan hanya persoalan orang dewasa. Masa anak-anak yang seharusnya penuh keceriaan pun tidak luput dari kondisi depresi. Kenali gelagatnya agar kita bisa melakukan langkah penanganan yang tepat.
Psikolog Fabiola P. Setiawan M.Psi menjelaskan, depresi bisa terjadi terhadap anak usia dini sekalipun. Pada tiga tahun pertama usia anak, biasanya depresi lebih terlihat dalam bentuk perilaku seperti menarik diri dari lingkungan, sulit menjalin attachment dengan teman sebaya, dan kurangnya self-regulation. ’’Hambatan ini dapat mengakibatkan anak itu memiliki gangguan emosi kelak saat dia beranjak dewasa,’’ ujarnya, sebagaimana dilansir JawaPos.com.
Pada anak usia prasekolah (3–6 tahun), gelagat depresi lebih mudah dideteksi karena mereka mulai menunjukkan kemampuan motorik dan mengungkapkan emosi. Anak yang depresi akan memperlihatkan sikap menarik diri, gerakan yang lambat, menangis, dan keluhan somatis seperti sakit perut. Meski, pada usia itu, perilaku tersebut bisa juga mengarah pada gangguan lain seperti oppositional defiant disorder.
Kemudian, pada usia sekolah (6–12 tahun), biasanya anak sudah mulai bisa dan mau mengungkapkan keadaan emosinya. Biasanya, keluhan somatis makin tampak seperti sakit kepala dan perut, menurunnya prestasi di sekolah, sulit konsentrasi, menangis, mudah tersinggung, suasana hati tidak menyenangkan, lelah, sulit tidur, meningkat atau menurunnya aktivitas motorik, khawatir, serta rendahnya rasa penghargaan terhadap diri.
’’Tetapi, ada juga anak dengan depresi yang tidak menunjukkan gejalanya. Orang tua harus lebih peka mengenali gelagatnya,’’ papar psikolog yang berpraktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia tersebut.
Sementara itu, pada usia remaja (12–19 tahun), gejala depresi makin dekat dengan kriteria klasik dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV. ’’Remaja bakal menunjukkan lebih banyak depressed mood, kurangnya aktivitas psikomotor, dan gangguan tidur bila dibandingkan dengan anak usia prasekolah atau usia sekolah,’’ ungkapnya.
Gejala yang menyertai masa remaja adalah perilaku yang khas. Di antaranya, perilaku mengganggu lingkungan, keluhan somatis, dan rendahnya penghargaan diri, terutama berkaitan dengan body image dan pikiran untuk bunuh diri.
Orang tua harus lekas tanggap ketika anak hilang minat terhadap hampir seluruh kegiatan yang sebelumnya disukai. Anak juga mudah tersinggung. Depresi pada anak tidak bisa dianggap enteng. Setiap manusia butuh berelasi dengan orang lain. Orang tua harus terhubung dan terikat dengan anak. Dengan begitu, orang tua dapat lebih peka mengenali perubahan dalam diri si buah hati. ’’Jadi, langsung tahu saat ada gelagat anak yang tidak seperti biasanya,’’ terangnya.
Gejala depresi bisa ditekan jika anak merasa banyak yang menyayanginya dan peduli kepadanya. Buat anak nyaman dengan kehadiran kita dan ajak mengobrol ringan. Setelah hubungan lebih cair, anak bisa dipancing untuk bercerita tentang apa saja yang dirasakan. Libatkan diri dalam ’’dunia’’ anak. Apa minatnya, bacaan favorit, film yang ditonton, dan lingkungan teman-temannya. Dengan masuk ke dunia anak, orang tua bisa lebih menyelami dan tidak terlambat menyadari perubahan sikap anak.
Ketika anak menunjukkan gelagat depresi, orang tua harus segera mencari solusi. Bila tingkat depresinya sudah berat, orang tua sulit menemukan masalah penyebab anak depresi dan langkah penanganannya. Sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater. Sebab, hal itu terkait dengan kesehatan mental dan perkembangan psikologis anak. (nor/c14/ayi/JPG)








