LEBAK – Calon wakil gubernur nomor urut satu Andika Hazrumy punya cara tersendiri memperingati Hari Pahlawan. Ia memilih untuk memperingatinya bersama warga desa di pelosok perkampungan, Desa Suwakan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
Pada Rabu (9/11) malam, Andika mengikuti renungan dan zikir bersama, dilanjutkan dengan menyaksikan panggung hiburan warga dan pawai obor. Kondisi kampung dibuat gelap gulita. Penerangan hanya berasal dari obor-obor yang diikat di pagar rumah warga.
Suasana mencekam begitu terasa. Hingga akhirnya di detik-detik jelang pukul 00.00 WIB, warga turun dari tempat renungan dan zikir bersama. Dengan melafalkan salawat, warga mengajak Andika mengikuti prosesi pawai obor keliling kampung dari titik lokasi kisah pertama kali pahlawan asli kampung dan desa di Bayah diserang Belanda hingga pahlawan dari kampung tersebut dimakamkan.
“Ada beberapa pahlawan yang gugur, tiga di antaranya orang asli dari kampung ini. Anak dan cucu pahlawan yang gugur hingga saat ini masih ada. Bahkan, beberapa saksi saat penyerangan Belanda ke kampung ini hingga sekarang masih hidup,” kata Igud Sujana, warga Suakan, Bayah.
Sujana yang juga pimpinan sanggar debus ini menjelaskan, gelaran yang dilakukan masyarakat saat ini merupakan ritual tradisi saat memperingati Hari Pahlawan. Ritual ini, kata Igud, untuk mengenang jasa pahlawan di kampungnya dalam upaya mempertahankan desanya dari situasi Bayah, Cikotok Lautan Api. “Belanda saat itu berkepentingan menguasai Bayah secara umum, termasuk desa kami. Alasannya untuk menguasai tambang di wilayah ini,” tuturnya.
Andika mengaku kagum dengan rasa nasionalisme dan spirit perjuangan yang masih melekat di masyarakat setempat. Spirit tersebut, kata cawagub yang diusung tujuh partai politik ini, terejawantahkan melalui rangkain prosesi peringatan Hari Pahlawan dan hari besar pelawanan rakyat Indonesia dari agresi Belanda. “Ini adalah tradisi positif. Spirit masyarakat di sini merupakan pelajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya masyarakat di Banten untuk memiliki daya juang mengisi kemerdekaan berlandaskan keutuhan NKRI. Tradisi ini sungguh membuat saya terpukau sekaligus kagum,” kata Andika.
Andika juga mengaku tak menyangka, daerah pedalaman yang terisolasi ini menyimpan kearifan lokal yang ideologis, yakni spirit perjuangan para pendahulunya. Menurutnya, tradisi ini penting dilestarikan, selain mengingat perjuangan para pahlawan, juga memelihara semangat juang dan rasa nasionalisme.
“Saya kira tradisi ini perlu dilestarikan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah. Perlu kiranya nanti dibuat museum sejarah yang memuat konten perjuangan warga lokal dan nasional. Selanjutnya akses infrastruktur menuju kampung ini diperbaiki dan mengurangi tingkat kecuramannya,” imbuhnya. (*/mg-12/alt/ira)











