SERANG – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Banten nomor urut dua, Rano Karno dan Embay Mulya Syarif berencana akan ziarah ke makam manta Gubernur Banten, almarhum Djoko Munandar. Selain berziarah ke makam, Rano-Embay pun rencananya akan berkunjung ke kediaman isteri almarhum untuk meminta nasihat dan memohonkan doa restu.
Rano mengungkapkan, dirinya sudah lama merencanakan ziarah tersebut. Rano mengenang Djoko Munandar sebagai pribadi yang hangat, sederhana, dan bersahaja. Djoko juga dikenal sebagai pribadi yang lurus dan teguh berpendirian. “Dari almarhum Djoko Munandar kita belajar tentang nilai, prinsip, dan tekad yang membatu,” ujarnya, Minggu (20/11).
Rano menuturkan, keteguhan pendirian sang mantan gubernur telah diuji dengan ujian yang cukup berat hingga berakibat tidak baik bagi karir politiknya, dimana Djoko Munandar difitnah dan dizhalimi lewat tuduhan tindak pidana korupsi yang belakangan dinyatakan tidak bersalah. Hingga akhir hidupnya, Djoko tetap mempertahankan prinsipnya. Melalui keputusan Mahkamah Agung, Djoko telah membuktikan dirinya hanyalah korban persekongkolan politik dari pihak-pihak yang tak ingin pemerintahan diselenggarakan dengan cara yang benar.
Senada dengan Rano Karno, calon wakil gubernur Banten, Embay Mulya Syarief menyebut Djoko Munandar adalah tempat belajar yang baik. Ziarah itu dilakukan untuk memetik pelajaran dari perjalanan hidup seseorang yang telah tiada.
“Perjalanan hidup manusia itu memang tak selalu mulus. Dari peristiwa yang menimpa Almarhum Djoko Munandar, kita memetik pelajaran penting bahwa Allah tidak pernah tidur. Bagi sementara kalangan, sikap almarhum Djoko Munandar yang terkesan kaku memang dianggap tidak kooperatif terhadap terhadap praktik-praktik curang,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat politik UI, Aditya Permana menilai ziarah tersebut sebagai kunjungan epistemologis. Ia menduga, Rano-Embay ingin mengirimkan dan menyampaikan pesan kepada publik bahwa sebagai pelayan rakyat keduanya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko apapun. Pesan lainnya, pasangan Rano-Embay seolah hendak menepis dan membuat semacam demarkasi dari isu seputar dinasti politik di Banten.
“Almarhum Djoko Munandar telah menjadi martir bagi keyakinannya sendiri. Saya ingin mengutip kalimat Soedjatmoko, ia memang kalah dalam politik. Tapi kekalahannya itu justru menunjukkan kebesarannya sebagai manusia,” ujarnya. (Bayu)








