SERANG – Salah satu mantan teroris yang juga merupakan jaringan peledakan bom Bali, Ali Fauzi Manzi alias Abu Ridho, alias Ikrima, alias Salman membuka rahasia pola pembentukan jaringan radikal.
Ali Fauzi mengatakan, proses pembentukan jaringan radikal di Indonesia berjalan begitu rapi hingga sulit untuk terendus oleh masyarakat dan pemerintah.
“Saya adalah seseorang yang juga merupakan otak pelesakan bom bali pada tahun 12 Oktober 2002 yang lalu, berat bom tersebut seberat 1ton 125kg yang terbuat dari mikro nuklir dan di rakit di lamongan di rumah saya dan di bawa ke Denpasar,” katanya saat memaparkan di acara desiminasi FKPT Banten. Selasa (29/11).
Menurut nya, Proses radikalise tersebut dapat terbentuk, 90% dari sosialisasi keseharian manusia. “Awalnya yang bergabung dengan kelompok teroris itu karena teman dan setelah masuk, barulah mereka punya kekuatan dan kekuatan tersebut memang karena ideologi,” ujarnya.
Ali Fauzi yang juga merupakan adik terpidana mati Ali Gufron dan adik terpina mati Amrozi yang lahir pada tanggal 15 September 1971 saat ini merupakan salah satu dosen Universitas Negeri di Malang. “Sekarang saya sebagai dokter spesialis ektrimisme. Saya bisa bangkit dan sembuh serta menyembuhkan karena ketiga sahabat saya yang saya temui di Mabes Polri sewaktu saya masih di tahan. Para sahabat saya takut setelah saya keluar dari Mabes Polri akan kembali menjadi seorang teroris lagi, nah itu yang membuat saya sadar. Dulu jejak teror pertama saya di Ambon tahun 2000. Saya ahlinya bom kontainer, serta saya menjuniori Nurdin M Top dan Dr Azhari,”katanya.
“Proses meninggalkan terorisme saya di sumpah oleh Abu Bilal dan Mubarrak alias Amin. Namun dulu saya beranggapan bahwa Polisi itu jahat, tapi semua itu salah, tidak ada satu pun pukulan bahkan diajak diskusi polisi tidak sejahat yang saya duga,” ungakpnya. (Wirda)










