HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum berbenah diri dunia pendidikan dari mulai guru, siswa, orangtua, maupun sistem pendidikan. Masih banyaknya kasus kekerasan di kalangan pelajar, menjadi potret buruk di dunia pendidikan. Banyak faktor yang melatarbelakangi masalah ini.
Psikolog Anak dan Remaja Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan masalah kekerasan pelajar begitu kompleks untuk ditelusuri penyebabnya. Hal itu melibatkan banyak hal, mulai dari masalah di sekolah maupun keluarga.
“Sangat kompleks, antara lain sekolah dan keluarga yang kurang memberikan apresiasi pada pencapaian anak yang berbeda (melulu akademis) sehingga siswa mencari pembuktian diri dari hal-hal negatif, termasuk kekerasan,” tukasnya kepada JawaPos.com, Selasa (2/5).
Terkait masalah kekerasan dan senioritas, Vera mengaku sangat prihatin hal itu masih saja terus berulang. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Diantaranya, tradisi turun menurun yang diwarisi setiap senior kepada juniornya. Dalihnya, kata Vera, hanya untuk menggembleng mental junior.
“Karena nilai-nilai dan kebiasaan atau tradisi yang berbau kekerasan masih ada di lingkungan pendidikan tersebut dengan dalih untuk menempa mental atau alasan lainnya yang tentu saja tidak dibenarkan,” tegas Vera.
Sejumlah catatan kelam di dunia pendidikan tercatat sepanjang tahun 2017. Pada Januari, seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Cilincing, Jakarta Utara bernama Amirullah Adityas Putra (18) tewas pada Selasa (10/1) malam akibat dianiaya seniornya di asrama.
Insiden lainnya juga terjadi di bulan April 2017 lalu. Siswa Taruna Nusantara, Krisna Wahyu tewas dengan cara mengenaskan di barak siswa. Dia tewas dengan luka tusuk di leher, pelakunya adalah rekan sendiri yakni AMR. (cr1/JPG)









