Perjuangan para goweser Tour D’Baduy (TDB) seri tiga 2017 cukup berat. Di tanjakan melintir yang dikenal dengan tanjakan S, para pemula bertumbangan. Tapi, semua itu terbayarkan setelah mencapai garis finis.
M WIDODO – Rangkasbitung
Wajah-wajah cerah nan gembira mewarnai peserta gowes TDB di Alun-alun Kota Rangkasbitung. Sesaat sebelum start, mereka bercengkerama satu dengan lainnya. Apalagi, para peserta ini datang dari berbagai daerah. Selain dari Banten, ada yang datang dari Jakarta, Depok, Bandung, dan lainnya.
Para peserta pemula, yakni peserta yang baru kali pertama ikut Tour D’Baduy yang diselenggarakan Serang Cilegon Anyar Merak (SCAM) Facebiker dan didukung Radar Banten ini, lebih banyak menanyakan jalanan atau medan yang bakal dilewati. Apakah jalanannya mulus, berapa banyak tanjakan, apakah tanjakannya berat atau tidak.
Tepat pukul 08.00 WIB, TDB 2017 dilepas oleh Abah Atah, pengurus DKM Masjid Agung Rangkasbitung yang juga seorang goweser. Menurut Abah Atah, ada atau tidak ada pejabat yang melepas, TDB tetap harus dilepas dan berjalan sesuai jadwal.
Ratusan goweser pun beriringan menyusuri jalan beton mulus dari Kota Rangkasbitung menuju Polsek Leuwidamar, pos etape pertama untuk beristirahat. Etape pertama yang berjarak sekira 20 kilometer ini relatif cepat diselesaikan. Bahkan ada yang menempuh waktu kurang dari satu jam. Selain kondisi jalanan yang relatif datar, kondisi fisik peserta juga masih segar bugar.
Tak lama, peserta istirahat di pos etape pertama untuk minum dan makan-makan camilan berupa singkong, pisang, dan jagung rebus serta lainnya. Peserta kemudian melanjutkan gowes etape kedua, yakni Polsek Leuwidamar-Terminal Ciboleger sejauh kurang lebih 21 kilometer.
Pada etape kedua inilah para peserta mulai mengatur ritme perjalanan. Selain kondisi fisik sedikit menurun, di lima kilometer menjelang Ciboleger jalanan naik turun bakal mendominasi. Bahkan, di sinilah terdapat tanjakan melintir, yang biasa disebut para goweser sebagai tanjakan S.
Benar saja. Para goweser yang baru kali pertama ikut TDB mulai bertumbangan. Ada peserta yang mabuk tanjakan. Dan, yang paling mendominasi adalah keram kaki. Bahkan para peserta kawakan pun ada beberapa yang mengalami keram kaki. Panitia pun langsung sigap dan mengevakuasi peserta yang sudah kelelahan dan keram ini naik ke mobil.
Namun hebatnya, ada peserta TDB yang finis di Ciboleger pada pukul 11.30 WIB, yaitu Galih. Peserta asal Kota Serang ini memang dikenal sebagai goweser andal yang kecepatan gowesnya pun diakui. Padahal, panitia memprediksi finis pertama peserta sekira pukul 13.00 WIB.
Selanjutnya, peserta lainnya menyusul finis sekira pukul 12.00 WIB yang dilanjutkan dengan ishoma. Setelah seluruh peserta berkumpul, perjalanan gowes dilanjutkan ke etape ketiga di Kampung Cilanggir untuk menitipkan sepeda dan kemudian berjalan kaki ke Kampung Batara, kampung pertama di Baduy Luar.
Sampai di Kampung Batara pada pukul 16.00 WIB, peserta yang sudah kelelahan langsung mandi ke Kali Akar dan berfoto ria sepuasnya. Peserta benar-benar meluapkan kegembiraannya dan kekagumannya akan alam Baduy yang masih terjaga kelestariannya. Wajah lelah dan capek saat menanjak di tanjakan S, tak terlihat lagi.
Malam harinya, para peserta yang mengaku puas mengikuti acara gowes TDB yang diselenggarakan SCAM Facebiker dan didukung Radar Banten ini bercengkerama dengan penduduk Baduy yang tidak mengikuti Seba tahunan.
Menurut Kang Ola, panitia dan penggagas TDB, semula peserta akan dilepas oleh pejabat setempat. Namun hingga pukul 08.00 WIB, tidak ada seorang pejabat pun yang hadir. “Namun, kami tidak kecewa. Karena ada Abah Atah yang juga Ketua DKM Masjid Agung yang juga seorang goweser berkenan untuk melepas,” katanya. (*)








