Sisa-sisa ekspedisi pelaut asal Tionghoa ke Samudera Barat (1405-1407), hingga artefak kuno kedatangan seorang kasim muslim, Laksamana Ceng Ho di Teluknaga, tersimpan rapi di Museum Heritage. Yang menarik, tak mudah bagi pengunjung untuk mengabadikan saksi sejarah di museum yang berada di Jalan Cilame, Pasarlama, Sukasari, Kota Tangerang.
Museum Heritage berada di kawasan padat permukiman penduduk. Untuk sampai di sana, kita harus melewati jalan sempit area pasarlama yang sisi kanan-kirinya berjejal pedagang.
Wartawan Radar Banten berkesempatan singgah ke museum yang berdiri tahun 2011, Selasa (9/5). Ketertarikan makin mendalam, setelah berdasarkan informasi, banyak artefak peninggalan pelaut asal Tionghoa yang tersimpan di museum tersebut.
Sesampainya di lokasi yang jaraknya sekitar 5 Km dari pusat pemerintahan, mata kita dimanjakan dengan indahnya ornamen Klenteng Boen Tek Bio.
Di dalamnya terlihat khususknya kaum Kong Hu Cu beribadah. Sementara di luar, hamparan lapak pedagang menjajakan peralatan sembayang dari dupa, hio, hingga kelengkapan lainnya.
Terlihat beberapa ornamen-ornamen Tionghoa mendominasi museum tersebut. Ada foto, hio, patung, buku, botol kecap buatan orang Tionghoa. Tempatnya cukup gelap. Museum ini punya dua lantai dengan tangganya berasal da ri kayu. Untuk bisa masuk pengunjung membayar Rp25 ribu.
Satu pemandu bersiap menjelaskan setiap barang yang ada beserta sejarahnya. Pengunjung dilarang untuk memotret. Di lantai satu beberapa buku tentang sejarah Tionghoa nampak mendominasi.
Hal-hal unik di balik sejarah kehidupan etnik Tionghoa serta berbagai artefak yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu. Mulai dari kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan yang terdiri dari sekitar 300 kapal jung besar dan kecil membawa hampir 30.000 pengikutnya.
Sebagian dari rombongan ini yang dipimpin oleh Chen Ci Lung diyakini
sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (Cina Benteng) yang mendarat di Teluknaga pada tahun 1407.
Selain menyaksikan hal-hal yang berhubungan dengan budaya Tionghoa
beserta artefak-artefak yang berusia rat usan tahun. Juga ada sebuah galeri yang berisikan berbagai macam kamera tua yang masih bisa menghasilkan gambar berkualitas tinggi.
Bagi yang senang dengan musik, juga akan dicengangkan oleh berbagai koleksi alat pemutar lagu mulai dari yang paling kuno. Edisson phonograph buatan tahun 1890-an sampai era Retro.
Di salah satu bagian bangunan terdapat semacam ukiran dari pecahan keramik, yang bercerita tentang seorang tokoh dalam legenda Sam Kok. Yaitu Jenderal Kwang Kong yang dikenal oleh masyarakat di negeri Cina dengan sifat yang ju jur, gagah dan berani.
Saat berada di lantai dua, pemandu mu seum juga asal muasal sebutan Cina Benteng. Ia mengatakan, sebutan itu berawal ketika rombongan Chen Ci Lung mendarat di Teluknaga pada 1407. Sebagian dari rombongan ini kemudian menetap dan tinggal di Teluknaga. Mereka bercocok tanam dengan menjadi petani. Hingga akhirnya datang Belanda
pada 1596 ke Batavia.
Nah, Belanda lewat kongsi dagang atau perusahaan hindia timur, sering
disebut VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) kemudian membangun benteng di sekitar kawasan Sungai Cisadane (sekarang Mall Robinson).
Nah, orang-orang Tionghoa yang ting gal di Teluknaga ini ada yang merapat ke kawasan tersebut dan menetap. Mereka juga berasimilasi dan menikah dengan penduduk setempat hingga beranak pinak. Ini yang kemudian men jadi cerita penamaan Cina Benteng. Mereka berbaur dan tinggal secara turun temurun.
”Makanya kini terkenal orang Cina yang tinggal di kawasan Pasar Lama
disebut Cina Benteng,” kata Andika, pemandu museum.
Selain tentang sejarah Cina Benteng. Di museum itu juga ada kartu domino beserta tempat untuk main judi. Tempatnya itu terbuat dari kayu dengan beberapa perlengkapan. Seperti tersedia tempat untuk makan dan minum termasuk tempat menyimpan uang.
Menurut Andika, orang Tionghoa ka lau sudah bermain judi bisa berharihari, makanya disediakan tempat makan dan minum. Ada juga baju-baju khas Tionghoa, pada abad 17. Juga tradisi masyarakat Tionghoa ketika akan menikah.
Pemandu dengan lihai menjelaskan budaya pernikahan untuk kalangan etnis Tionghoa. Salah satu pengunjung, Halimi, mengaku baru pertama kali datang ke museum. Ia melihat museum ini cukup lengkap untuk menerangkan jejak kebudayaan masyarakat Tionghoa di Tangerang.
”Saya tahu ada museum yang memuat Tionghoa, dari media sosial. Makanya menyempatkan diri datang langsung,” kata pria asal Gresik, Jawa Timur ini.
Pria bermata sipit ini berharap agar barang-barang di museum bisa lebih
banyak. Soalnya masih ada yang belum sepenuhnya diterangkan. ”Perbanyak lagi barang-barang. Misal pakaian Tionghoa sehari-hari pada abad 18 dan lain sebagainya,” ungkap Halimi.
Sekira 25 menit, pemandu menerangkan tentang barang-barang yang ada di museum tersebut. Selepas melihatlihat barang di lantai satu, Halimi kemudian pamit dan mengaku akan mendatangi beberapa museum di Banten. ”Mau cari-cari museum di sekitar sini. Katanya ada di Banten. Saya mau ke sana,” katanya menutup pembicaraan. (Firdaus Rahmadi/Radar Banten)









