SERANG – Moch Jaelani Firdaus, warga Kompleks Taman Angsoka Permai, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, yang diduga salah satu dari tujuh anggota jaringan teroris di Filipina asal Indonesia dikenal ramah terhadap warga.
Keterangan tersebut Radar Banten Online peroleh dari Ketua RT 03/08 Kompleks Taman Angsoka Permai Juandi saat ditemui di kediamannya, Kamis (1/6). “Suka ketemu lagi olahraga pagi, dia menyapa, setiap bawa motor, juga suka menyapa ke masyarakat,” ujar Juandi.
Firdaus menjadi bagian di lingkungan kompleks tersebut sejak sekitar tiga tahun lalu setelah menikahi Dzatun Nithaqainshulton, putri ketiga dari pasangan Edi Riyadi dan Jupriyah, yang sudah tinggal sejak tahun 1996.
Sejak menikah dengan Dzatun, dikatakan Juandi, Firdaus jarang tinggal di lingkungan tersebut. Firdaus diketahui warga kerja di Tangerang dengan berjualan tahu. Terakhir Firdaus terlihat pada 4 Februari 2017 lalu. Mulai hari itu juga, Dzatun kembali tinggal di rumah orang tuanya setelah tiga tahun diboyong Firdaus.
“Dulu ke sini setiap minggu, cuma gak netep tiap hari. Setiap di sini kelihatannya normal, berbaur juga, cuma pakaiannya aja yang agak aneh, ngegantung gitu, selain itu normal,” kata Juandi.
Sedangkan Dzatun, diakui Juandi, anak ketiga dari lima bersaudara tersebut sangat tertutup dan pendiam. Pria bertubuh gempal ini mengenal Dzatun sejak kecil. Sebelum menikah dengan Firdaus, Dzatun kuliah di IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten (sekarang UIN Banten), namun hanya sampai semester dua.
Juandi pun mengaku tidak menyangka jika warganya menjadi bagian dari jaringan teroris, terlebih aksi tersebut dilakukan di luar negeri. Edi Riyadi, ayah Dzatun dikenal sebagai tukang pijat dan petani. Sedangkan ibunya, Jupriyah, mengajar di SD Persis.
Sementara itu, Edi Riyadi saat ditemui di rumahnya mengaku baru mengetahui informasi jika menantunya menjadi salah satu buronan dari kepolisian Filipina.
“ Nggak tahu apa-apa. Harapannya sudah ada kabar. Saya asli Tasik istri dari sini. Kalau Firdaus di Bekasi, menantu (kerja) di Tangerang, Bekasi, jualan tahu,” ujarnya
Edi mengaku kaget begitu mendengar bahwa menantunya menjadi salah satu yang dicari oleh kepolisian Filipina karena dugaan aktivitas terorisme di Filipina Selatan. Yang ia tahu berdasarkan informasi dari anaknya, Firdaus izin kerja untuk beberapa saat. “Saya juga syok, bingung. Kata istrinya sih mau kerja aja. Itu kata istrinya,” katanya.
Untuk diketahui, seperti yang dikutip di JawaPos.com, Philippine National Police (PNP) telah merilis sejumlah teroris yang diduga terlibat konflik di kawasan Marawi. Empat di antaranya adalah warga negara Indonesia yang kini masih terus diburu petugas.
Mabes Polri memastikan empat orang yang dirilis PNP itu adalah WNI. Dan kini keberadaannya diduga masih berada di Filipina. “Mereka diduga berada di Filipina Selatan bergabung dengan teroris di sana,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul ketika dikonfirmasi, Selasa (31/5).
Lanjut dia menerangkan, keempat orang itu adalah Al Ikhwan Yushel yang berangkat ke Filipina ad 28 Maret 2017, lalu Yayat Hidayat Tarli yang berangkat bersama Anggara Suprayogi pada 15 April 2017 lalu. Dan terakhir adalah Yoki Pratama Windyarto yang berangkat pada 4 Maret 2017 lalu.
Namun kata Martinus, selain empat orang yang menjadi buronan itu, ada tiga orang WNI lainnya yang juga diduga tergabung kelompok teroris di Filipina. Mereka adalah Moch Jaelani Firdaus, Muhammad Gufron dan Muhammad Ilham Syahputra. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)
Ket Foto: Ketua RT 03/08 Kompleks Taman Angsoka Permai Juandi saat ditemui di kediamannya siang ini, Kamis (1/6).









