Setelah jadi janda, Sephia, 55, merasa pria plontos itu romantis dan perkasa. Kini ia selalu menjadi pacar plontos dari yang muda sampai yang tua. Awalnya, ketiga anaknya membiarkannya, namun kini mereka protes dan memilih mengeksekusi ibunya ke apartemen
Umi Hany Akasah-Wartawan Radar Surabaya
Sephia tidak bisa lagi menahan hasrat untuk bercinta ketika melihat seorang pria plontos sedang berjumpa dengannya. Maka detik itu pula, ia coba-coba melakukan pendekatan personal. Dari mulai sok akrab, kenal bahkan endingnya menjadi pacarnya.
”Setelah ayah meninggal,ibu jadi genit. Janda sih janda, mau puber ketiga juga enggak apa apa. Tapi, yo mbok ojo seminggu ganti, sebulan ganti berkali kali. Dirasani tonggo,” kata putri bungsu Karin di disela-sela sidang kepengurusan harta warisan di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Kamis (26/8).
Bersama pengacaranya, Karin mengaku sudah super kesal dengan ulah ibunya. Ia hanya takut rumah warisan ayahnya jadi pusat mesum ibu dengan pacar pacar plontosnya. Kini, ia dan kedua kakaknya pun sudah urunan untuk membelikan apartemen untuk ibunya agar tidak menggangu ketenangan warga sekitar.
”Kalau di apartemen enak. Wes sakkarep sakkarepe ibu. Bah jungkir, balik yang penting gak dilabraki tonggo ae,” kata Karin yang bekerja sebagai pegawai perbankan.
Menurut Karin, sebenarnya ibunya bertanggung jawab dengan ulahnya. Ia tidak pernah meminta uang kepada anak-anaknya, dan sibuk dengan bisnis jualannya di Kapas Krampung dan beberapa toko di pasar pasar di kawasan Surabaya Timur.
Meski demikian, anaknya mulai gerah karena beberapa aset peninggalan ayahnya dijual ibunya untuk berfoya foya dengan pacar pacarnya.
”Nanti kalau enggak dibagi gini, bisa habis buat foya-foya mama. Rumah itu untuk sementara ditinggali kakak pertama, ya biar ibu enggak seenaknya gowo lanangan di rumah. Malu maluin,” kata wanita yang tinggal di kawasan Gunung Anyar tersebut.
Sementara itu, Sephia yang hadir dalam sidang gugatan warisan mengaku pasrah dengan keputusan anaknya untuk membagi harta warisan sesegara mungkin. Dalam pikirannya, ia hanya ingin anak-anaknya tidak berebut warisan.
”Enggak ada masalah sama anak-anak. Ya mereka ingin segera dibagi saja. Itu hak mereka,” kata Sephia enteng.
(sb/han/jek/JPR)








