SERANG – Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengingatkan kepada masyarakat supaya mewaspadai konflik yang berpotensi memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu disampaikan Kapolda saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) se-Provinsi Banten di Ponpes Al-Fathaniyah, Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, Sabtu (21/10) malam.
“Indonesia selama 350 tahun kita dijajah Belanda karena waktu itu baru mau bersatu kita dipecah dengan konflik-konflik. Saat ini kita harus waspada karena tidak menutup kemungkinan ini adalah permainan bangsa lain yang ingin memecah belah NKRI,” kata Listyo dalam sambutannya.
Peringatan HSN ketiga yang diikuti sekira 700 perserta itu dihadiri oleh tokoh ulama se-Banten dan pejabat di lingkungan Polda Banten. Listyo mengatakan, penetapan 22 Oktober sebagai HSN bukan tanpa alasan. Kiai dan santri berperan penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
HSN, kata Kapolda, sebagai refleksi para santri saat melawan penjajah Belanda, dimana KH Hasyim Ashari mengeluarkan resolusi jihad. “Santri berjuang bersama elemen masyarakat lainnya, termasuk PETA, dan tokoh pemuda yang juga santri yaitu Bung Tomo,” ujar Kapolda.
Kapolda menambahkan, santri dapat berperan dalam mengisi kemerdekaan dengan cara formal dan non formal. “Secara formal dapat menjadi polisi, TNI, pengusaha, dan pemerintah daerah, dokter dan sebagainya. Jalur non formal, bagaimana santri di ponpes ikut membantu implementasi nilai-nilai Pancasila, yang diwariskan oleh pendahulu,” kata Kapolda.
Sementara itu, pimpinan Ponpes Al-Fathaniyah Matin Syarkowi mengatakan, pendidikan pertama yang ada di Indonesia adalah ponpes salafiyah yang didirikan oleh Wali Songo. “Kita sebagai santri wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” tegas Matin. (Merwanda/RBG)









