SERANG – Di Ibukota Provinsi Banten, masih ada 80 balita dengan kondisi gizi buruk. Dari jumlah itu, 19 anak di antaranya adalah pasien lama dan 61 pasien baru dari gizi kurang yang statusnya meningkat menjadi gizi buruk.
Namun, Walikota Serang Tb Haerul Jaman mengaku, jumlah penderita gizi buruk setiap tahunnya mengalami penurunan. “Tahun lalu, ada 86 anak. Tahun ini menurun menjadi 80 anak,” ujar Jaman usai pembukaan sosialisasi hasil bulan penimbangan balita tingkat Kota Serang di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (25/10).
Suami Vera Nurlaela ini mengatakan, dari 19 balita gizi buruk yang merupakan pasien lama dari 2016, sembilan di antaranya adalah penderita gizi buruk sejak lahir. Untuk itu, sejak tahun lalu, pemulihan terhadap ke sembilannya tidak sama dengan 67 balita lainnya yang kini sudah pulih.
Tak hanya gizi buruk, kata dia, jumlah penderita gizi kurang juga mengalami penurunan dari 1.600 balita saat ini menjadi 1.300 balita.
Ia mengatakan, penanganan gizi buruk menjadi salah satu prioritas Pemkot. Namun, penanganannya tidak hanya masalah gizi saja tapi secara keseluruhan. Untuk itu, organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani tidak hanya Dinas Kesehatan (Dinkes) saja tapi juga yang lain.
Selain program yang digulirkan Pemkot, tambahnya, mindset dan prilaku masyarakat juga harus berubah. Bahkan, ia berharap stakeholder dan instansi yang ada di Kota Serang ikut berpartisipasi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Serang Eti Mulyati mengatakan, jumlah 80 balita gizi buruk tersebar di enam kecamatan. Namun paling banyak di Kecamatan Kasemen sebanyak 33 balita, disusul Kecamatan Serang 14 balita, kemudian Kecamatan Walantaka, Kecamatan Taktakan, dan Kecamatan Curug sebanyak sembilan orang. Terakhir Kecamatan Cipocokjaya sebanyak delapan balita..
Kata dia, penyebab utama gizi buruk adalah kemiskinan. Selain itu, pola asuh orangtua juga masih kurang, sehingga gizi anak tidak maksimal.
Ia menguraikan, ada beberapa penanggulangan masalah gizi yang dilakukan Dinkes selain pemberian makanan tambahan, ada juga panti pemulihan gizi, pos gizi, hingga kunjungan rumah balita gizi buruk.
Eti mengungkapkan, selain balita gizi kurang, ada juga 504 balita yang apabila tidak ditangani dengan baik akan jatuh menjadi gizi buruk. “Untuk itu, kami terus intervensi,” ujarnya.
Kasubdid Kewaspadaan Gizi Kementerian Kesehatan RI Sugiri mengatakan, gizi balita juga tergantung dari kondisi ibu saat hamil. Berdasarkan datanya, hanya 70 persen ibu hamil yang tercukupi gizinya.
Kata dia, masalah gizi buruk memang terjadi di setiap daerah. Tren di Kota Serang terus naik. Untuk itu, perlu ada regulasi untuk memperbaiki gizi balita Kota Serang. (Rostinah/RBG)









