GROGOL – Seorang ibu rumah tangga bernama Siti Julehah, warga Lingkungan Ciore Jaya, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol, menjadi korban ledakan gas elpiji, Jumat (10/11). Kini, ibu tiga orang anak itu harus menjalani perawatan di ruang isolasi di RSUD Cilegon karena menderita luka bakar di sekujur tubuhnya.
Informasi yang dihimpun, awalnya anak Siti Julehah bernama Maryam memasak menggunakan gas elpiji di rumahnya. Namun karena tabung gas bocor, Maryam mencopot regulator gas. Oleh Maryam, tabung gas direndam ke dalam kolam air. Setelah itu, Maryam pun menutup pintu dapur dan meninggalkannya.
Rupanya tabung gas di dalam kolam tetap bocor dan memenuhi ruangan dapur. Di sisi lain, Siti Julehah sedang memasak air menggunakan kayu bakar di luar dapur. Melihat ada yang aneh di dalam dapur, Siti Julehah pun membuka pintu dapur. Namun nahas bagi Julehah, gas yang sudah memenuhi ruangan dapur malah menyambar api di tungku luar yang sedang merebus air.
Siti Julehah pun ikut tersambar api. Dia mengalami luka bakar pada kaki, tangan, sebagian badan, muka, serta rambutnya. Sementara bagian atap dapur hancur akibat dorongan gas yang terpicu api dari luar dapur. Beruntung api tidak merambat sehingga isi rumah masih bisa selamat.
Keluarga dan warga Ciore Jaya kemudian membawa Siti Julehah ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon untuk mendapat perawatan. Namun sayang, ia tidak bisa dirawat di rumah sakit milik PT Krakatau Steel (KS) tersebut lantaran ruangan penuh. Siti Julehah selanjutnya dirujuk ke RSUD Cilegon.
Saat ditemui, Siti Julehah mengaku hampir kehilangan kesadaran saat insiden itu terjadi. “Begitu ada ledakan, saya langsung teriak-teriak minta tolong. Sekujur badan saya panas sekali. Meski pakai kerudung, rambut saya juga kebakar. Panas sekali,” katanya. Dia berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi dan luka bakar di tubuhnya bisa segera disembuhkan.
Menanggapi insiden tersebut, Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Kota Cilegon Oman Diharja mengaku prihatin masih adanya insiden ledakan gas elpiji. Padahal, pihaknya beserta Pertamina sudah sering memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan gas elpiji yang baik dan benar. “Seharusnya hal seperti itu tidak perlu terjadi bila masyarakat paham,” kata Oman.
Menurutnya, sudah menjadi standar umum bahwa bila ada indikasi kebocoran pada tabung gas, seharusnya pengguna gas mengeluarkannya di tempat terbuka. Bukan malah direndam di tempat tertutup seperti yang terjadi di rumah Siti Julehah.
“Letakkan gas di tempat terbuka agar gasnya larut bersama udara. Kalau di tempat tertutup justru gas mengumpul. Bila ada pemicu seperti percikan api maka gas akan meledak,” katanya.
Sedangkan Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Pedro Sio menyatakan, edukasi penggunaan gas elpiji yang benar memang baru dilakukan. Khususnya kepada para petugas linmas, satuan relawan kebakaran (satlakar), dan barisan relawan kebakaran (balakar) di masing-masing kelurahan.
“Tapi hasil dari sosialisasi tersebut, para peserta yang mengikuti bisa menularkan ilmunya kepada masyarakat,” terang Pedro Sio.
Adapun terkait kebakaran yang diakibatkan oleh gas elpiji, seharusnya masyarakat yang tidak tahu juga mencari tahu. Itu dilakukan sebagai upaya melakukan pencegahan diri.
“Terus kalau mau dipersentasekan, untuk kasus kebakaran yang disebabkan ledakan juga terhitung masih sedikit,” jelas Pedro Sio.
Kepala DPKP Nikmatullah mengaku, tidak mengetahui jika kemarin terjadi kebakaran di Grogol. “Saya tidak tahu karena sampai dengan kemarin sore tidak ada laporan yang masuk bahwa ada kebakaran di sana,” terang mantan sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) itu. (Ibnu M-Umam/RBG)










