SERANG – Pengangkatan Airlangga Hartarto (AH) sebagai Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) yang diambil melalui mekanisme musyawarah mufakat dalam rapat pleno kemarin malam, dinilai oleh pengamat politik sekaligus akademisi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Leo Agustino menunjukkan kemenangan Istana.
Menurut Leo, kemenangan Airlangga sudah diprediksi jauh-jauh hari bahkan beberapa saat setelah penangkapan Setya Novanto.
“Sebenarnya yang menarik, siapa pun yang memenangkan kursi Ketua Umum, tidak akan mengubah dukungan Partai Golkar pada Joko Widodo pada Pemilu tahun 2019. Namun, kemenangan AH justru semakin menguatkan dukungan Partai Golkar pada Joko Widodo pada Pemilu dua tahun ke depan,” papar Leo melalui pesan WhatsApp, Jumat (15/12).
Leo menilai pengangkatan Airlangga kali ini sebagai bentuk penguatan Istana dalam Partai Golkar, yang sebelumnya pernah berseberangan jalan dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Bahkan yang dirinya lihat, kondisi ini membuat ‘Partai Kuning’ tersebut bercita rasa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
“Apakah hal ini bermasalah bagi demokrasi? Tentu tidak. Sebab demokrasi memberikan kesempatan pada semua partai politik untuk menentukan sikap politiknya. Namun yang disayangkan, adanya ‘kode’ dukungan Istana pada AH sebelum pleno sehingga menggiring pilihan pada AH. Seharusnya ‘kode’ itu tidak perlu dilontarkan agar prosesi pemilihan Ketua Umum Partai Golkar jauh lebih fair,” ujar Leo. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)











