SERANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten angkat bicara terkait insiden pemukulan terhadap seorang kiai di Kabupaten Bandung hingga babak belur dan membuat korban harus dirawat di Rumah Sakit.
Ketua MUI Banten AM Romly menuturkan, perlu diketahui terlebih dahulu apa latar belakang pemukulan yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban.
“Apakah karena sakit hati atau karena apa? Perlu dicari tahu dulu alasannya,” ujar Romly saat dihubungi Radar Banten Online melalui sambungan telepon seluler, Minggu (28/1).
Dijelaskan Romly, saat ini, sebagai seorang kiai, ulama, atau penceramah perlu hati-hati dalam menyampaikan tausiyah atau menasehati seseorang. Menurutnya, kiai, ulama, mupun penceramah perlu tegas dalam menyampaikan ajaran agama namun tidak perlu dengan cara kasar.
“Ingat, tegas dan kasar itu berbeda,” kata Romly.
Sejauh ini, lanjut Romly, kasus tersebut belum pernah terjadi di Banten. Menurutnya, sikap toleransi yang tinggi di Banten mampu menahan terjadinya hal-hal yang bersifat anarkis terjadi di Banten.
“Di Banten semuanya akur, ulama jawaranya akur,” katanya.
Sebelumnya diberitakan Radar Banten Online, KH Umar Basri, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar), dipukuli usai salat Subuh di dalam Masjid Al Hidayah, Sabtu (27/1).
Pelaku yang masih belum diketahui identitasnya, sedangkan ulama berusia 60 tahun itu kondisinya babak belur. Banyak luka memar di bagian wajahnya. Kiai yang akrab disapa Ceng Emon Santiong itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Cicalengka. Namun sekarang korban dipindahkan ke RS Al Islam Bandung.
Insiden terjadi sekitar pukul 5.30 WIB. Ketika itu, korban baru saja selesai menunaikan salat subuh dan zikir. Selesai salat, para jamaah keluar. Di dalam Masjid Al Hidayah tinggal korban dan seorang pria. Pada saat itu lah pelaku memukuli korban dengan tangan kosong hingga babak belur. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)










