Menjadi seorang penjaga perlintasan rel kereta api (KA) yang tidak dilengkapi dengan palang pintu merupakan tugas yang berat. Namun, seorang pria paruh baya bernama Subrata, bersedia mengemban tugas tersebut untuk menjaga keselamatan pengendara.
RIFAT ALHAMIDI – Cikeusal
Minggu (27/5) sekira pukul 09.00 WIB, Subrata (54) sudah disibukkan dengan aktivitasnya mengatur arus lalu lintas di perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang berlokasi di Kampung Pasir Manggu, Desa Dahu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. Pria yang sudah memiliki tiga cucu ini tercatat mulai menekuni tugas tersebut sejak setahun lalu. Berawal dari tawaran rekannya yang bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI), ia pun bersedia mengambil pekerjaan yang sebetulnya jarang diminati oleh kebanyakan orang.
Jalur perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu di Cikeusal sendiri dikenal sebagai wilayah yang rawan terjadi kecelakaan. Hal itu karena, pengendara akan sulit mengetahui jika ada kereta yang melintas saat melalui jalur tersebut. Dua sisi yang dilalui kereta yang berangkat dari arah Stasiun Rangkasbitung maupun Stasiun Serang ini terhalang oleh tikungan sebelum memasuki perlintasan yang tidak dilengkapi dengan palang pintu. Ditambah, sebelum Subrata bertugas, tidak ada penjaga yang disiapkan PT KAI untuk menjaga perlintasan tersebut.
Namun, bagi Subrata, tugas yang begitu berat itu sudah ia anggap sebagai ibadah. Tugasnya itu pun ia dedikasikan untuk menjaga keselamatan para pengendara. Meskipun hanya bertugas seorang diri, ia tidak pernah mengeluhkan kondisi tersebut. Karena setiap hari, ia terbiasa berangkat dari rumah mulai pukul 07.00 WIB untuk menjaga perlintasan rel kereta api hingga pukul 21.00 WIB.
“Dari pagi sampai malam kan kereta masih ada terus yang lewat. Jadi, harus ikut jaga juga sampai jadwal jadwalnya beres,” kata Subrata saat berbincang dengan Radar Banten di lokasi perlintasan rel kereta api.
Memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, rupanya tidak sebanding dengan kondisi yang dialami Subrata. Untuk keperluan berjaga sehari-hari saja, ia tidak mendapatkan perlengkapan sesuai prosedur seperti alat komunikasi resmi dari PT KAI. Subrata, hanya mengandalkan insting dan ingatannya saja saat menjaga perlintasan tersebut.
Jam tangan pribadinya menjadi satu-satunya alat yang ia jadikan patokan saat bertugas. Ia pun sudah hapal betul jadwal pemberangkatan kereta api dan kapan alat transportasi massal tersebut akan melintas di jalur yang ia jaga. “Kereta mah berangkatnya sehari kan maksimal dua kali bolak balik doang. Pas mau keretanya datang ke sini, lima menit sebelumnya saya udah nyetop mobil sama motor supaya enggak lewat dulu. Nah, kalau keretanya udah enggak ada, baru mobil ama motor bisa lewat lagi,” ungkap Subrata.
Di luar tanggung jawabnya yang begitu besar, jangan harap Subrata memiliki honor tetap untuk kebutuhan gajinya setiap bulan. Hal ini lantaran, PT KAI tidak memberikan kontrak resmi bagi petugas penjaga perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu seperti Subrata. Subrata hanya bisa merasakan gaji dua kali saja karena ia hanya dibayar pada saat Hari Raya Idul Fitri dan libur tahun baru.
Untuk nominalnya, Subrata bisa mendapatkan gaji sebesar Rp1,9 juta untuk tugasnya selama 15 hari kerja. Gaji itu harus ia ambil ke Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, karena namanya terdata di stasiun tersebut. “Jadi kalau kerjanya sebulan full, tinggal kali dua aja, hehehe,” ungkapnya.
Setelah satu tahun mengabdikan diri sebagai petugas penjaga perlintasan rel kereta api, Subrata memiliki segudang suka duka yang ia alami saat menjalankan tugas. Walaupun memiliki tanggung jawab besar akan keselamatan pengendara, namun tak jarang Subrata juga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari para pengendara yang melintas.
Contohnya seperti jika ada pengendara yang tidak mau bersabar, Subrata sering mendapat bentakan hingga cacian dari pengendara tersebut. Namun, semua itu tidak pernah Subrata masukan ke dalam hati. Ia sudah bertekad mengabdikan dirinya menjadi petugas penjaga perlintasan rel kereta api untuk bisa membantu mencegah terjadinya kecelakaan.
Kini, pria yang tinggal di Kampung Katapura, Desa Tambiluk, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, ini berharap bisa mendapatkan penghasilan yang layak atas tugas yang ia laksanakan selama ini. Tapi, kata Subrata, jika kondisi itu tidak memungkinkan, ia tetap bertekad untuk mengabdikan dirinya dalam pekerjaan tersebut. “Soalnya, dulu pernah mengajukan untuk gaji tetap. Tapi, dari PT KAI memang jatahnya segitu saja. Cuma pas bulan-bulan ramai doang,” pungkasnya. (*)








