SERANG – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mengimbau kepada petani di Banten untuk ikut program asuransi usaha tani padi (AUTP). Program tersebut bertujuan untuk menekan risiko usaha tani padi.
“Asuransi ini merupakan program Kementerian Pertanian, yang bisa diikuti oleh petani atau buruh tani yang membudidayakan padi. Pemerintah menggandeng salah satu perusahaan BUMN, PT Asuransi Jasa Indonesia (AJI) sebagai pelaksananya,” kata Kepala Distan Banten, Agus M Tauchid kepada Radar Banten, Rabu (4/7).
Menurut Agus, besaran premi yang harus dibayar oleh peserta terbilang murah yakni Rp36.000 per hektare dalam satu kali musim tanam dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta. Besaran nilai asuransi proposional dengan luas tanam, misalnya untuk lahan setengah hektare membayar setengahnya dan mendapatkan pertanggungan setengahnya juga.
Biaya asuransi menjadi murah karena pemerintah mensubsidi premi 80 persen dari total premi yang harus dibayar. “Kalaupun gagal panen, kami juga sudah mengantisipasi melalui langkah-langkah pelindung, salah satunya melalui AUTP. Jaminannya kalau gagal panen itu Rp4 sampai Rp6 juta, apakah itu gagal panen akibat hama penyakit atau lain sebagainya,” ungkapnya.
Selain menyarankan petani ikut asuransi, Distan juga mengimbau petani untuk menggilir penanaman varietas padi di musim kedua tanam atau musim kemarau. Hal itu perlu dilakukan sebagai antisipasi serangan hama penyakit padi. Dikatakan Agus, setiap musim memiliki potensi hama penyakit padi yang berbeda. Oleh karenanya, alangkah baiknya perlakukan penanaman padi bisa disesuaikan dengan musimnya. Salah satu caranya dengan menggilir varietas yang ditanam. “Harus ada pergiliran varietas, menanam jenis benih padi yang sesuai dengan musimnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini para petani Banten cenderung lebih menyukai varietas Ciherang dan IR 64. Alasannya, varietas tersebut lebih mendapat respons dari pengusaha penggilingan padi. Padahal, varietas tersebut terbilang sudah tua sehingga rentan terhadap hama penyakit. “Contoh kasus di Desa Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang yang terserang hama penyakit. Tapi Alhamdulillah setelah tim dari kami turun bisa diatasi,” katanya.
Jika saat ini memasuki musim kemarau, maka varietas yang lebih cocok ditanam Situbagendit. Selain itu bisa juga digunakan varietas Inpari 33 yang tahan terhadap serangan hama penyakit wereng batang coklat (WBC). “Jika seperti pertanaman musim ke dua, musim kemarau, ada baiknya pakai Situbagendit yang tahan terhadap kekeringan. Bisa juga misalnya yang tahan sekali terhadap wereng seperti Inpari 33,” ungkapnya.
Terpisah, Gubernur Wahidin Halim meminta kepada ilmuan pertanian untuk ikut membuka lahan mengembangkan pertanian dan kesejahteraan petani. Hal itu disampaikan WH mengingat kebanyakan ilmuan pertanian yang hanya sebatas mengajar ilmu yang dimiliki tanpa memiliki lahan untuk digarap. “Makanya saya minta para ilmuan pertanian, mari kita buka lahan,” ujar Wahidin saat membuka Seminar Nasional dan Rapat Tahunan Dekan (SEMIRATA) Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri (BKS – PTN) bidang pertanian wilayah barat di Hotel Horison Ultima Ratu, Rabu (4/7).
Senada dengan Gubernur, Ketua BKS – PTN Wilayah Barat Agus Sabti mengajak perguruan tinggi untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitasnya di bidang pertanian, untuk generasi selanjutnya sehingga kedaulatan pangan bisa nyata dirasakan.
“Bagaimana peran perguruan tinggi mampu mentransfer pengetahuan dan kreativitas bagi generasi ke depan. Target kita bagaimana kedaulatan pangan tidak hanya sebagai simbolis, tapi bisa kita wujudkan,” ujarnya. (Deni S/RBG)










