SERANG – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang meminta para petani bersabar dengan adanya proyek normalisasi irigasi primer aliran Bendung Pamarayaan yang berdampak keringnya lahan pertanian. Normalisasi dilakukan agar persediaan air irigasi untuk lahan pertanian ke depannya sesuai kebutuhan.
Sekadar diketahui, adanya proyek normalisasi irigasi menjadi salah satu penyebab kekeringan lahan pertanian pada sejumlah wilayah di Kabupaten Serang. Baik wilayah Pamarayan Timur, Utara, maupun Pamarayan Barat. Kondisi diperparah dengan musim kemarau saat ini yang cukup berkepanjangan sehingga berpotensi banyak petani akan mengalami gagal panen.
Kepala Seksi Operasional (Kasi Ops) pada Dinas PUPR Kabupaten Serang Hendi Suhendi mengatakan, kondisi irigasi primer saat ini hanya mampu menampung 14 kubik air dari kebutuhan 17 kubik air. Kondisi dangkalnya saluran irigasi dikhawatirkan menjadi penyebab banjir ketika memasuki musim hujan.
“Makanya, irigasi harus dinormalisasi karena tidak bisa menampung banyak air, selain agar pendistribusian air irigasi ke depannya bisa sesuai kebutuhan petani,” terang Hendi saat ditemui Radar Banten di kantor Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Benggala, Kota Serang, Selasa (7/8).
Kata Hendi, waktu pengerjaan proyek normalisasi diperkirakan sampai 2020. Proyek dikerjakan secara bertahap oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3). “Untuk itu, saya meminta para petani tetap bersabar dengan adanya normalisasi irigasi primer. Walaupun bukan kami yang mengerjakan, tapi saya tahu persis,” tegasnya.
Hendi mengatakan, proyek normalisasi irigasi di saluran Bendung Pamarayan sudah lama menjadi program pemerintah pusat. Kalau tidak diperbaiki, selain debit air irigasi sedikit, dikhawatirkan juga adanya tanggul jebol yang dapat mengurangi pendistribusian air. Saat ini prosesnya memasuki tahap pemasangan pancang dan pengecoran bantaran irigasi. Selama ini, kata Hendi, pihaknya selalu mengalah ketika petani membutuhkan air. Akibatnya, proyek dikerjakan menggunakan tongkang atau pelampung beko.
“Kalau seperti itu (menggunakan tongkang-red) tidak maksimal pengerjaannya. Kedalaman irigasi tidak terlihat. Lumpur juga akan hilang ketika dikeruk karena ada air. Jika pengerjaan ingin maksimal, ya saat irigasi dalam kondisi kering,” jelasnya.
Soal rencana kedalaman irigasi yang dinormalisasi, kata Hendi, berbeda-beda sesuai kapasitas debit air dan daerah yang dilewati air. “Jika dari hulu kedalaman mencapai enam meter, untuk ke hilir atau tengah itu kedalamannya kurang lebih tiga sampai empat meter,” terangnya.
Hendi menegaskan, pihaknya sudah menyosialisasikan jadwal buka tutup irigasi kepada pihak terkait. Termasuk ke kecamatan sampai Pemkab Serang. Diungkapkan Hendi, wilayah yang terkena dampak normalisasi di antaranya Pamarayan Barat, meliputi Kecamatan Cikeusal, Kragilan, Ciruas, Kota Serang, Kramatwatu, Bojonegara, hingga Cilegon. Serta Pamarayan Utara meliputi Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Kecamatan dan Lebakwangi. Untuk Pamarayan Timur, meliputi Kecamatan Pamarayan, Bandung, Kibin, Carenang, dan Kecamatan Tanara.
“Setelah proyek normalisasi selesai akan dirasakan manfaatnya oleh para petani, terutama soal kebutuhan air,” tandasnya.
Terkait itu, Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Serang Tata Juarta tidak menampik lahan pertanian di sejumlah wilayah terjadi kekeringan dampak dari kegiatan normalisasi irigasi. Tata memperkirakan, status kekeringan akan meningkat mulai dari sedang, berat, bahkan puso. “Selain karena proyek normalisasi, juga musim kemarau berkepanjangan. Kalau ada hujan dua hari saja, kemungkinan persawahan terselamatkan,” ucapnya.
Tata berharap, Dinas PUPR dan BBWSC3 dapat membuka tutup irigasi sesuai jadwal. “Supaya para petani tidak dirugikan dan lahan pertanian yang kekeringan bisa terselamatkan,” ujarnya. (Adi/RBG)











