Bagai anak kecil di tengah perkumpulan orang dewasa, Cemong (44), nama samaran, merasa tak dihargai kehadirannya. Memaksakan diri menikahi sang istri, sebut saja Wiwi (41), ia mengaku, siap mengambil semua risiko. Soalnya, sang ibu mertua sejak awal memang sudah tak menyetujui hubungan mereka. Oalah, kok bisa begitu, Kang?
“Ya saya juga bingung. Saya kira kalau sudah menikah mah ya sudah ikhlaskan, eh ternyata malah begitu,” ungkap Cemong kepada Radar Banten.
Meski begitu, Cemong mengaku, cintanya terhadap sang istri tak pudar hanya karena masalah itu. Katanya, jangankan dimusuhi mertua, tak disenangi orang sekampung pun kasih sayangnya tak akan pernah sirna. Widih, lebay amat sih Kang. Cimong mengaku, peristiwa itu terjadi ketika ia berusia 28 tahun dan sang istri 25 tahun.
Kalau dilihat dari penampilan fisik serta kecocokan, Cemong dan Wiwi memang bak langit dan bumi. Berkulit hitam dan wajah tak terlalu tampan, Cemong banyak dibicarakan orang. Dibilang lelaki beruntung dengan segala bentuk ledekan lainnya, ia tak pernah marah. Menganggap semua ocehan orang sebagai bahan hiburan, Cemong mensyukuri kenikmatan Tuhan. Widih.
“Ya, saya mah enggak peduli, mau orang ngomong apa pun, yang penting enggak bikin istri sakit hati. Hidup mah dibawa santai saja,” ungkapnya bangga.
Dari cara mengobrol dan bersenda gurau, tampak jelas Cemong memang termasuk tipe lelaki humoris. Murah senyum dan tak sungkan berbicara dengan orang baru, ia lelaki yang pandai bergaul. Tak heran, ia memiliki banyak teman. Mudah diterima berbagai kalangan, Cemong orang yang asyik diajak ngobrol.
Sedangkan Wiwi, berdasarkan keterangan Cemong, ia wanita spesial. Sewaktu SMA, kebetulan mereka teman satu kelas. Dari sekian banyak wanita, hanya Wiwilah yang jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, meski berpostur kecil, kecantikan wajah berpadu dengan putih kulitnya, membuat siapa pun akan terpesona.
Tak heran jika dahulu Wiwi dikejar-kejar banyak pria. Memiliki mantan lebih dari sembilan, bagi Cemong, itu sesuatu yang sangat mengagumkan. Maka saat itu, ketika Wiwi baru putus dengan kekasihnya di kelas tiga, Cemong tak tinggal diam, ia lekas melakukan pendekatan.
Tak disangka, sebulan sebelum kelulusan, Cemong langsung menyampaikan rasa. Ajaibnya, Wiwi juga memiliki perasaan sama, jadilah mereka jadian. Teman-teman Cemong awalnya tak percaya. Tapi, setelah melihat keduanya jalan berdua di lorong sekolah, barulah semua mengakui kisah cinta keduanya. Widih, romantis amat sih Kang.
Hingga lulus sekolah, lantaran tak ada biaya, baik Cemong maupun Wiwi tak melanjutkan kuliah. Mereka yang memilih bekerja di perusahaan ternama menambah ekonomi keluarga. Cemong dan Wiwi jadi kebanggaan orangtua.
Meski sama-sama sibuk bekerja, setiap kali ada waktu luang, keduanya sering main ke rumah orangtua. Baik Cemong maupun Wiwi saling mengenal kedua keluarga masing-masing. Bercerita tentang latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi, mereka saling menerima apa adanya.
Singkat cerita, lantaran banyak teman-teman mengakhiri masa lajang, Cemong dan Wiwi pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Ya meski dengan pesta sederhana, hanya menyediakan makan dan hiburan dangdut biasa, mereka tampak bahagia.
Di awal pernikahan, Cemong bersikap layaknya suami pada umumnya. Perhatian pada istri dan mertua, setiap tanggal muda, ia mengajak Wiwi dan ibunya makan di luar. Meski sang ibu mertua tak pernah mau, Cemong tak menyerah. Bukan hanya itu, bahkan sampai dibelikan baju dan barang mewah lainnya, sang ibu tak pernah mau memakainya. Hal itu membuat Cemong dan sang istri sedih. Aih, memang sebenarnya ada masalah apa sih, Kang?
“Enggak tahu, Kang, saya kira faktor utamanya sih soal kerjaan saya. Saya belum punya penghasilan besar,” curhat Cemong.
Namun, bagai karang di lautan, Cemong tak kenal kata lelah demi kebahagiaan rumah tangga. Berkat kasih sayang serta dorongan sang istri, ia bisa tinggal dengan nyaman. Dilayani penuh keistimewaan, Cemong merasa hidupnya sempurna. Sampai berjalan dua tahun usia pernikahan, hadirlah anak pertama, membuat rumah tangga mereka semakin berwarna.
Hingga suatu hari, peristiwa menyakitkan itu terjadi. Saat Cemong membeli rokok di warung depan rumah. Sang pemilik warung yang memang sudah akrab dengannya mengajak bercerita. Tak disangka, sang pemilik warung memberitahukan semua ucapan sang ibu mertua ketika mengobrol dengan ibu-ibu lainnya. Aih, memang ceritanya bagaimana, Kang?
“Katanya, dia ngomongin saya dan lagi cari calon suami baru buat istri saya,” terang Cemong. Astaga.
Keesokan harinya, seolah tak semangat hidup, Cemong lebih banyak diam. Tak bersikap mesra pada sang istri, ia mengaku sudah tak punya harapan lagi. Maka diam-diam, tanpa pamit pada istri, Cemong pergi dan pulang ke rumah orangtua. Tiga hari tak memberi kabar, sang istri pun mendatanginya ke rumah keluarga. Namun, lantaran kecewa dan lelah, Cemong memilih bercerai.
Ajaibnya, enam bulan setelah perceraian, Cemong justru mendapat rezeki dengan diterima bekerja di perusahaan ternama di Cilegon. Menjalani hari-hari sepi sendiri, tak bisa dipungkiri, ia merindukan sosok Wiwi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, mungkin masih berjodoh, tak sengaja mereka dipertemukan kembali. Cemong dan Wiwi pun menikah lagi.
Hebatnya, sampai hari ini hubungan mereka semakin mesra. Dengan pekerjaan mumpuni dan sudah membeli rumah pribadi, sang ibu mertua pun tak pernah merendahkan Cemong lagi. Mereka hidup rukun sejahtera. Ciyee, langgeng selalu ya Teh Wiwi dan Kang Cemong. (daru-zetizen/zee/ira)










