Disadari atau tidak, apa yang kita lakukan semasa muda, merupakan cerminan kehidupan di masa tua. Mungkin seperti itu kalimat yang tepat mengawali kisah cinta Noni (37) bukan nama sebenarnya. Membangun bahtera rumah tangga bersama Boli (35) nama samaran, keduanya bertekad untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain.
“Jujur saja, Kang. Saya merasa beruntung dapet Kang Boli, soalnya waktu itu, di usia yang ke-32 tahun, saya sudah bukan perawan alias janda satu anak. Kang Boli yang usianya 30 tahun masih perjaka,” terang Noni kepada Radar Banten.
Meski begitu, seperti dikatakan Noni, sejak awal Bili berjanji akan menerima apa adanya. Seolah membuktikan janji, Boli menunjukan sikap sewajarnya ketika jalan berdua. Ya meski terkadang, Noni merasa bersalah lantaran tidak sempurna menjadi seorang wanita, tapi ia masih bisa tersenyum lega karena Bili selalu ada di sisinya. Wih luar biasa yah Kang Bili.
“Iya, dia sih orangnya santai. Ketika saya tanya tanggapan dia tentang keadaan saya, dia cuma tersenyum,” kata Noni.
Meski sudah tidak perawan, Noni wanita yang bisa dibilang pandai menjaga penampilan. Lantaran selama ini ia rutin berolah raga, lari pagi dan joging setiap sore, membuat tubuhnya sintal layaknya artis-artis ibu kota. Pokoknya, Noni memang bukan wanita biasa. Beuh, kenceng dong, Teh?
“Ya lumayanlah. Badan saya memang kelihatan kenceng, ya kata orang sih seksi gitu!” akunya bangga.
Lain Noni lain pula dengan Boli. Lelaki mapan dan matang ini, memiliki tubuh gempal dan tampak lambat ketika berjalan. Meski begitu, apalah arti fisik bagus jika tak berduit. Hal itulah yang jadi prinsip Boli. Terlahir dari keluarga berada, Boli termasuk lelaki yang tak pernah kekurangan soal harta.
Singkat cerita, hampir setahun menjalani hubungan dengan Noni, ia menyatakan keseriusan menuju jenjang pernikahan.Saat itu Noni merasa harapan mulai kembali datang. Boli yang usianya lebih muda, ganteng, berpendidikan dan mapan, membuat Noni bahagia luar biasa. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan, Noni langsung mengiyakan.
Di awal pernikahan, mereka menjalani hari-hari layaknya pasangan pada umumnya. Boli bekerja dan Noni menjadi ibu rumah tangga. Ya, meski masih dibantu oleh pembantu di rumah, setidaknya untuk bersih-bersih dan mencuci, Noni masih bisa melakukannya. Tapi kalau untuk memasak, wah, itu yang tidak pernah ia lakukan. Masalahnya, sejak muda Noni memang tidak bisa memasak. Oalah.
“Hehe, ya habis gimana ya Kang. Di rumah juga memang jarang masak, setiap makan pasti beli,” curhat Noni.
Parahnya, Noni tak menyangka, hal ini membuat Bobi terkadang suka marah-marah. Di tiga bulan pertama, sang suami masih bisa tersenyum saat pulang kerja tak ada makanan. Hingga setahun berlalu, keluarlah sikap asli Bobi. Ia yang biasanya masih bisa bersabar menunggu Noni membeli makanan, tiba-tiba berubah menjadi tak sabaran. Bobi yang suka makan banyak, sering mengamuk kepada Noni.
Apa mau dikata, rumah tangga yang awalnya ia kira akan bahagia bak hidup di surga, nyatanya tak seperti apa yang dibayangkan. Meski begitu, beruntungnya, entah karena kedewasaan atau juga rasa cinta keduanya, masalah makanan tak membuat rumah tangga berantakan.
Mencoba mengerti Noni sepenuh hati, Bobi mulai terbiasa menjalani hidup bersama sang istri. Hingga akhirnya, setahun kemudian, Bobi membeli rumah baru untuk tempat tinggal bersama istri. Tentu saja, hubungan mereka semakin mesra. Pokoknya, rumah tangga Bobi dan Noni diselimuti kebahgiaan.
Berjalan dua tahun pernikahan, baik Bobi maupun Noni merasa kesepian. Layaknya pasangan suami istri pada umumnya, mereka membutuhkan kehadiran buah hati. Oleh karena itu, seolah ingin segera mewujudkan keinginan, mereka melaksanakan program menciptakan keturunan. Widih, sudah kaya apa saja pakai program segala.
“Hehe, ya biasalah, Kang. Yang sudah berumah tangga mah pasti tahu program beginian,” kata Noni sambil ketawa.
Namun apalah daya, tiga tahun berumah tangga, belum juga diberi keturunan. Setelah berusaha sekuat tenaga melakukan berbagai cara, tetap tidak membuahkan hasil. Ketika datang ke dokter spesialis kehamilan, barulah diketahui ini semua karena kebiasaan buruk Noni yang sering mabuk dan merokok di masa muda. Astaga.
“Sumpah, Kang, saya nyesel banget semasa muda bergaul sama teman yang enggak bener dan ikutan mabok dan merokok. Kalau tahu bakal kayak gini, enggak bakal begitu,” curhat Noni menyesali diri.
Mengetahui hal itu, Boli yang juga manusia biasa sempat shok dan tak percaya. Sepulang dari klinik, bagai orang yang baru saja dicuci otaknya, Boli lebih banyak diam dan melamun sendirian. Antara merasa bersalah dan malu, sekuat tenaga Noni memohon maaf pada suaminya. Keduanya pun menangis meratapi keadaan.
Hebatnya, seiring berjalannya hari, seolah menjaga perasaan sang istri, Bobi bersikap biasa layaknya tak ada seuatu terjadi. Bahkan yang membuat Noni tak menyangka, saat itu Bobi meminta agar hal itu menjadi rahasia mereka berdua. Orangtua dan keluarga tak perlu mengetahuinya. Wah, luar biasa.
“Saya juga waktu itu merasa tenang, Kang. Tapi semua itu cuma omong kosong doang, dia enggak benar-benar tulus terima kekurangan saya,” curhat Noni.
Hingga pada akhirnya kenyataan memang tidak selalu seperti apa yang diharapkan. Meski Boli terlihat santai menanggapi masalah ini. Tapi, diam-diam ia mengkhianati. Noni yang setiap hari sibuk mengurus rumah tangga, merasa kecolongan saat mengetahui bahwa sang suami sering main gila.
Lewat pesan singkat dari seorang wanita di ponsel Boli, ia mengetahui kalau sang suami sering larut pulang malam bukan urusan pekerjaan, tapi asyik sibuk pacaran bersama selingkuhan. Weleh-weleh.
Apa mau dikata, meski sempat menahan diri agar tidak sampai terjadi keributan, Noni pun akhirnya meledak tak mampu menahan sakit hati yang bergejolak di jiwanya. Meski Boli tak mengakui perbuatannya, pada akhirnya, rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi. Boli dan Noni resmi berpisah untuk selamanya.
Ya ampun, sabar ya Teh. Semoga Teh Noni diberi segala yang terbaik oleh Tuhan. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)











