Apalah daya bagi Cici (38) nama samaran, yang hidup serba kekurangan dengan segala tekanan yang datang baik dari keluarga, maupun tetangga. Bukan hanya karena masalah ekonomi belaka, tetapi juga akibat ulah suami tercinta, sebut saja Didi (40). Banyak diberi kesempatan oleh mertua, entah karena sial atau bukan rezeki, semua usahanya tak ada yang menemui hasil.
Apalah daya, antara tidak enak pada orangtua dan segan ke suami, Cici bingung sendiri. Ia mengaku karena hal itu rumah tangganya sempat mengalami keretakan. Keributan sering terjadi di antara mereka. Cici mengaku, peristiwa itu terjadi ketika ia berusia 30 tahun dan suami 32 tahun.
“Duh, Kang. Dia itu dulu sudah sering dimodali sama bapak saya. Jual kebun, jual sawah, dikasih uang tunai, semuanya enggak ada yang beres,” curhat Cici kepada Radar Banten.
Hebatnya, meski sering dimarahi bahkan dibentak sang istri, Didi tak pernah balas memarahi. Seolah pasrah pada apa yang terjadi, ia mampu menahan diri untuk mengerti kemauan Cici. Karena sikapnya itulah, rumah tangga tetap aman dan tenteram. Hidup kekurangan tak membuat mereka renggang. Tapi, di balik diamnya suami ternyata ada sesuatu yang disembunyikan. Wah-wah, ada apa ini?
“Sumpah saya enggak nyangka, Kang. Kebaikan keluarga selama ini dibalas dengan hal menyakitkan,” curhat Cici.
Seperti diceritakan Cici, kisah cintanya bersama Didi dimulai sejak masa muda, mereka diam-diam saling memendam rasa. Terhalang rasa malu lantaran kedua orangtua saling mengenal, terkadang baik Cici atau pun Didi terpaksa memendam perih ketika salah satu di antara mereka memiliki kekasih. Hingga suatu hari, ketika usia tak lagi bisa disebut remaja, yang namanya masyarakat kampung, kedua orangtua menginginkan mereka segera menikah.
Lantaran masih belum menemukan pasangan alias jomblo, berawal dari comblang-comblangan biasa, mungkin karena terbawa perasaan, mereka pun jadian. Apa mau dikata, pucuk dicinta ulam pun tiba. Orangtua dan saudara pun merestui hubungan mereka. Mengikat janji sehidup semati, Cici dan Didi resmi menjadi sepasang suami istri.
Dengan pesta pernikahan yang digelar meriah, mereka tampak bahagia. Baik Cici maupun Didi tak henti-henti melempar senyum kepada setiap tamu undangan. Alunan musik dangdut pun menambah semaran hari bersejarah bagi keduanya, orang-orang ikut merayakan sambil menikmati merdunya suara penyanyi dangdut.
Di awal pernikahan, keduanya sama-sama saling menjaga perasaaan. Didi memboyong sang istri untuk tinggal di rumah bersama keluarga. Didi terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja serabutan dan ibu sibuk mengurus rumah. Dibandingkan kakak-kakaknya, Didi yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara itu adalah anak yang paling disayang orangtua karena sikap lembut dan penyabarnya. Kalau ada masalah apa pun, hanya ia yang bisa menyelesaikan dengan kepala dingin.
Lain Didi lain pula dengan Cici, katanya, wanita yang memiliki postur tubuh tinggi dengan kulit putih itu berasal dari keluarga berada. Anehnya, ketika ditemui wartawan di kediaman Cici, ia berpenampilan biasa. Bahkan, menurut keterangan yang dikatakan Cici, ayahnya hanya seorang petani dan rumahnya pun tak semewah pada umumnya.
“Ya, bapak memang enggak mau nunjukin kekayaannya, Kang. Kita sekeluarga sepakat buat simpan uang tuh pakai cara investasi tanah gitu. Jadi kan kalau suatu waktu butuh, ya tinggal jual dan harganya bisa naik,” terang Cici.
Tak heran, ketika perayaan pernikahan pun, keluarga sang wanita begitu sangat loyal dalam menyukseskan pesta bersejarah bagi Cici tersebut. Apalagi, dengan status sebagai anak wanita satu-satunya, pastilah apa yang diminta akan terlaksana. Hingga setahun usia perikahan, Cici dan Didi dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra.
Lantaran ingin hidup mandiri, Cici meminta tinggal terpisah dari keluarga. Didi yang hanya bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta pun tak bisa mengelak, dengan uang seadanya, ia memboyong sang istri dan anak tercinta pindah ke kontrakan sederhana. Parahnya, keadaan semakin tak nyaman ketika sang suami tak lagi bekerja karena dipecat tanpa alasan.
Sejak saat itulah peran keluarga datang memberi ketenangan. Sang ayah yang tak tega melihat kondisi rumah tangga Cici, memberi modal kepada Didi untuk membuka usaha. Karena sejak kecil senang menernak ayam, Didi pun membuka usaha peternakan ayam. Membuat kandang dan membeli pakan ayam, jutaan rupiah uang dikeluarkan.
Sampai dua tahun kemudian, bangunan kandang ayam tak lagi bisa menghasilkan uang. Lantaran tak memahami pengelolaan peternakan, usahanya itu berantakan. Sementara, saat itu mereka sudah dikaruniai dua anak sehingga kebutuhan semakin meningkat. Hebatnya saat itu meskipun gagal, Cici masih bisa bersikap lembut dan menerima keadaan.
“Ya, waktu awal-awal sih masih bisa mengertilah namanya juga orang usaha. Keluarga juga santai-santai saja,” terangnya.
Dengan keadaan yang penuh tekanan, akhirnya sang ayah pun rela membuatkan rumah untuk Cici dan suami. Mereka menempati rumah baru yang lebih nyaman. Bukan hanya itu, lagi-lagi seolah ingin hidup sang anak penuh kenikmatan, keluarga memberi kesempatan pada Didi untuk mencari nafkah. Namun, kali ini ia diberi amanah meneruskan usaha keluarga berjualan beras.
Apesnya, lagi-lagi mungkin karena memang belum rezeki, toko beras yang awalnya berjalan baik dan lancar, sejak ditangani oleh Didi perlahan menunjukkan penurunan. Hingga hampir setahun kemudian, usahanya gulung tikar alias bangkrut. Sejak itu Cici mulai tak bisa lagi bersabar atas keadaan yang terjadi. Ia tak segan memarahi suami.
“Habisnya capek, Kang. Dia itu enggak mau belajar dari kesalahan. Sebelumnya gagal, besoknya gagal lagi. Kayak enggak ada peningkatan gitu. Kan saya juga yang enggak enak sama keluarga,” curhat Cici.
Ibarat hidup segan mati tak mau, di tahun kelima usia rumah tangga, Cici dan Didi seolah tak lagi menemukan chemistry. Sikap sang istri yang kerap emosi membuat Didi merasa tak dihargai. Meski begitu, beruntungnya ia termasuk lelaki yang terlatih bersabar. Sikapnya diam dan tenang meski keadaan penuh tekanan. Ya ampun, ngeri amat ya!
“Ya, kadang saya juga heran sendiri, saya marahin berkali-kali, dia cuma diam dan enggak membalas. Sikapnya adem saja gitu, Kang,” tutur Cici.
Sampai suatu hari, terbongkarlah semua yang ada di balik diamnya Didi. Layaknya artis-artis yang pandai bersandiwara, apa yang ia rahasiakan selama ini ketahuan juga. Entah karena ada masalah dengan selingkuhannya, wanita yang tak lain janda tetangga desa, berkoar-koar ke tetangga dan beberapa terkait hubungan gelap mereka.
Sampailah kabar mengerikan itu ke telinga Cici. Keributan pun terjadi. Dua minggu kemudian, seolah tak mampu menahan kesabaran akibat tingkah Didi perceraian pun terjadi. Rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi.
Astaga, sabar ya Teh Cici. Semoga dapat suami baru yang lebih baik dari Kang Didi. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)










