Meskipun sudah soft launching pada 25 Juni, RSUD Kota Serang yang berada di Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocokjaya masih sepi dari pasien. Kalaupun ada pasien, selama belum ada tarif RSUD, masyarakat cukup membayar Rp5 ribu untuk mendapatkan pelayanan dari dokter spesialis.
ROSTINAH – SERANG
Rasa bintang lima, harga kaki lima. Itulah ungkapan Direktur RSUD Kota Serang A Hasanudin untuk menggambarkan pelayanan di fasilitas kesehatan yang dibuka oleh Walikota Serang periode 2013-2018 Tb Haerul Jaman. Bagaimana tidak, dengan mendapatkan pelayanan dari dokter spesialis dan sarana prasarana yang bagus, masyarakat cukup membayar Rp5.000.
Tarif yang masih sama dengan puskesmas itu diberlakukan karena Pemkot Serang belum mempunyai aturan baku yang mengatur tarif di rumah sakit tipe C tersebut. Tarif sebesar lima ribu perak itu diberlakukan kepada para pasien umum.
Selama tiga bulan ini, RSUD memang belum bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kerja sama itu belum dilakukan lantaran fasilitas kesehatan di rumah sakit yang dibangun dengan anggaran Rp41,4 miliar itu belum lengkap.
Belum adanya kerja sama antara RSUD dengan BPJS Kesehatan menjadi salah satu faktor rumah sakit yang dibangun di atas lahan 14.700 meter persegi itu masih sepi dari pasien. Setiap harinya, pasien yang datang tak lebih dari sepuluh orang. Kalaupun ada yang datang, hanya dari masyarakat sekitar saja. Mayoritas menggunakan pelayanan poli umum. Namun, meskipun begitu sudah ada dua pasien yang melahirkan di RSUD.
Agar RSUD dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, RSUD harus melengkapi sarana dan prasarana. Saat ini pembangunan tahap kedua sedang dilaksanakan dengan anggaran dari bantuan keuangan Pemprov Banten senilai Rp18,5 miliar. Pembangunan tahap kedua itu berupa gedung yang terdiri dari tiga lantai. Di dalamnya, akan dibuat instalasi gawat darurat, ruang hematologi, dan ruang bedah. “Hanya saja ruang bedahnya juga kurang lengkap. Secara bertahap akan kami sempurnakan,” tutur Direktur RSUD Kota Serang A Hasanudin. Selain itu, fasilitas fisioterapi dan ruang cuci darah juga belum tersedia.
Apabila semuanya sudah lengkap, pihaknya akan bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Nantinya, seluruh puskesmas di Kota Serang dapat merujuk pasiennya ke RSUD.
Namun, kekurangan yang ada saat ini tak mengurangi semangat para tenaga medis dan pegawai RSUD untuk melayani masyarakat. Saat tak ada pasien, para tenaga medis dan pegawai bersama-sama mengikuti pelatihan dan membuat standar operasional pelayanan. Hal itu bertujuan agar pelayanan yang diberikan RSUD baik untuk masyarakat. (*)









