SERANG – Pascatsunami Selat Sunda, pedagang dan nelayan di Anyer, Kabupaten Serang masih tak berdaya. Pedagang mengeluh tak ada pengunjung yang datang berwisata, sedangkan nelayan masih takut melaut.
Hal itu membuat mereka kesulitan mendapatkan penghasilan dan pasrah dengan keadaan.
Pantauan Radar Banten, Sabtu (5/1) siang, di pantai sekitar Mercusuar, warung-warung pedagang yang terbuat dari papan dan bambu tampak lengang. Meski ada beberapa pedagang yang membuka warungnya, namun belum ada pengunjung.
Nurjannah, salah satu pedagang di kawasan Mercusuar Anyer mengaku, tiga hari setelah mengungsi ke dataran tinggi di wilayah Cinangka akibat bencana tsunami Selat Sunda, para pedagang di areal Mercusuar Anyer kembali berjualan. Namun dampak dari bencana tersebut, lokasi wisata tempat mereka berjualam sepi.
“Dampak bencana tsunami sangat berpengaruh terhadap penghasilan kami (para pedagang). Ibaratnya nih ya, penghasilan per hari dua ratus ribu, sejak ada bencana, hanya dapat penghasilan dua puluh ribu,” katanya.
Selain itu, barang dagangan mereka yang tak laku, sebagian basi dan kedaluwarsa karena sudah terlalu lama tak dikonsumsi. Dagangan seperti mi instan dan minuman masih bisa disimpan, namum dagangan seperti sayuran, emping dan buah-buahan yang busuk terpaksa harus dibuang.
“Ya ini mah namanya sudah risiko. Dagangan enggak laku ya terpaksa dibuang, tapi kalau yang sekira masih bisa dikonsumsi seperti sayur yang layu, saya bawa pulang buat dimasak di rumah,” ungkapnya.
Sumadi, salah seorang nelayan, memilih membantu sang istri yang berjualan makanan ringan ketimbang melaut. Ia masih takut mencari ikan karena status Gunung Anak Krakatau masih belum aman. Perahu yang ia simpan di Kampung Bojong, sudah seminggu lebih tak ditengok. Sumardi hanya bisa pasrah.
“Ya mau gimana lagi Kang. Kalau maksain melaut, ya takut dateng ombak besar lagi. Terus sama anak istri juga pasti dilarang. Saya sih berharap agar situasi segera stabil supaya bisa melaut lagi,” katanya.
Terkait hal itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Serang Subagiyo mengatakan, pihaknya masih belum bisa mengatasi masalah tersebut. Selain situasi yang belum aman, para nelayan dan masyarakat sekitar pesisir pantai Cinangka-Anyer juga masih trauma. Namun dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan ke para nelayan di Anyer
“Ya tentu kami terus berdoa agar situasi kembali normal. Insya Allah, tiga atau empat hari ke depan, kita akan kunjungan dan memberi pembinaan serta motivasi kepada nelayan terkait terhambatnya mata pencaharian mereka,” katanya. (Haidaroh)









