slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Kakak Ibu

Redaksi by Redaksi
26-06-2019 09:15:18
in Catatan Dahlan Iskan
Kakak Ibu
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Saya tidak akan menulis ini untuk koran. Yang akan saya tulis ini terlalu pribadi. Bahwa ada koran yang memuatnya terserah.

Inilah bedanya koran dan tv berbayar, radio dan tv, dan media sosial.

Baca Juga :

Disway Group Jajaki Kerja Sama Bisnis dengan SIPF dari Jepang

Disway Group Jajaki Kerja Sama Bisnis dengan SIPF Jepang 

Pertama Kali! Disway Group Jalin Kerjasama dengan Brand Kecantikan Lokal B Erl Cosmetics

Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

Di koran (dan tv berbayar) apa pun bisa disiarkan. Asal disukai pelanggan. Pun tidak disukai tidak apa-apa. Dengan risiko tanggung sendiri: tidak laku. Tidak bisa hidup.

Radio dan tv berbeda: terikat frekuensi publik. Tidak boleh untuk kepentingan selain publik. Mestinya. Atau harus membayar mahal frekuensi itu. Yang hasilnya untuk kepentingan publik.

Di media sosial bebas.

Boleh menyiarkan apa saja. Termasuk untuk kepentingan pribadi. Seperti yang akan saya tulis ini. Urusannya hanya satu: isinya melanggar hukum atau tidak. Itu pun tergantung: penegak hukumnya adil atau tidak.

Ini memang ‘hanya’ soal kakak sulung saya: Khosiyatun. Yang saya panggil ‘Yu Tun’. Yang meninggal dunia kemarin dulu. Saat saya dalam perjalanan darat. Dari Lexington di Virginia ke Maryland, dekat Washington DC.

‘Yu’ adalah ‘mbakyu’. Kakak perempuan. Saya sudah merasa sisa umurnya kian tipis. Saat saya terakhir ke rumahnya bulan lalu Yu Tun sudah tidak ingat siapa-siapa. Pun nama tiga putrinya.

Saya minta Yu Tun dibawa lagi ke rumah sakit. Yang terbaik di Samarinda. Anak-anaknya tidak setuju. Infus pun sudah tidak bisa masuk. Apalagi makanan.

Anak yang tinggal satu rumah dengan Yu Tun hanya meneteskan air atau sari buah ke mulutnya.

Yu Tun tidak punya keluhan apa pun. Tidak merasa ada yang sakit. Tidak sesak. Tidak kembung. Tidak gelisah. Tidak terlihat ada yang menyiksanya badannya. Atau perasaannya.

Wajahnya sama: seperti selalu agak tersenyum. Begitu juga saat meninggal dunia. Proses meninggalnya sangat pelan. Berhari-hari. Dengan badan tetap telentang. Tidak bergerak. Tapi masih ada nafas. Ada denyut nadi. Sangat lirih. Lalu hilang.

Saya sering menemuinya. Tapi saya sempat absen dua tahun. Saat ada kejadian ‘itu’. Saya tahu Yu Tun sangat prihatin. Terutama ketika melihat tv setiap hari. Sehari beberapa kali. Bahwa adiknya korupsi Rp 950 miliar. Hampir satu triliun.

Jangan-jangan Yu Tun merasa seringnya uang yang dia terima adalah hasil korupsi.

Saya tidak sempat mengklarifikasi.

Setelah saya bisa ke sana lagi Yu Tun sudah kian tidak ingat. Di umurnya yang 75 tahun.

Yang saya bahagia: akhirnya Yu Tun masih ingat siapa saya. “Adikku dewe,” katanya terbata. Sambil telapak tangannya mengusap-usap wajah saya. Tidak henti-hentinya. Dengan sorot matanya yang berbinar.

“Adikku dewe,” katanya lagi. Dan lagi.

Waktu itu saya jongkok di sebelah tempat tidurnya. Agar bisa dekat dengan wajahnya. Dan bisa membisikkan beberapa kata ke telinganya.

“Da-lan.. Adikku dewe,” katanya.

‘Adikku dewe’ adalah bahasa Jawa untuk ‘adikku sendiri’. Tapi kata ‘dewe’ di situ terasa punya makna khusus yang amat dalam. Setidaknya di perasaan saya. Apalagi ternyata Tu Yun ingat saya. Di saat tidak lagi ingat nama anak-anaknya.

“Adikku dewe,” katanya. Dan katanya. Sambil terus mengusap wajah saya. Seperti saya ini masih bayi.

Saya pun mulai pancing ingatan Yu Tun. Dengan cerita-cerita lama. Yang saya tahu paling membanggakannya. Yakni saat Yu Tun masih di Magetan. Sebelum ‘minggat’ ke Samarinda.

Itu terjadi saat Yu Tun pertama kali diangkat sebagai guru agama. Punya gaji. Punya masa depan. Yu Tun memang tamatan madrasah muallimat Pesantren Sabilil Muttaqin. Yang kemudian menjadi Madrasah Aliyah. Tempat saya sekolah juga.

Waktu itu Yu Tun dibenum menjadi guru SD di sebuah desa di Kedungbanteng. Dekat Kedunggalar, pelosok Ngawi. Tidak jauh dari desa kelahiran bapak saya. Sebuah desa di lereng utara Gunung Lawu. Kering. Sulit air.

Cerita itu membuat Yu Tun seperti berusaha mengingat sebentar. Mungkin sudah 50 tahun tidak ada orang yang menyebut nama Kedungbanteng di telinganya.

Yu Tun lantas menganggukkan kepala. Tersenyum. Tanda ingatan lamanya kembali.

Lalu saya ceritakan bagaimana sulitnya air di sana. Bagaimana sulitnya mengajarkan ngaji di daerah yang waktu itu masih dibilang ‘merah’.

Yu Tun mulai banyak tersenyum. Kadang senyumnya terlepas begitu saja. Saya ajak pula Yu Tun mengingat teman-teman remajanya. Lalu –maafkan– saya ingatkan dia bagaimana jatuh cintanya yang habis-habisan. Pada seorang pemuda yang amat ganteng. Gagah. Tinggi. Pinter.

Tapi keluarga laki-laki itu tidak setuju. Alasannya: masih sepupu. Ia anak sulung kakak tertua ayah saya.

Kemudian Yu Tun pilih pergi jauh. Jauh sekali. Ke Samarinda. Yang hanya bisa ditempuh dengan naik kapal.

Kepergian Yu Tun ke Samarinda saat itu rasanya lebih jauh dari kepergian saya ke Virginia sekarang ini.

Kami memiliki sepupu lain yang sudah lebih dulu bekerja di Samarinda. Di PLTG Karangasam. Tahun 1962. Juga satu paman yang menjadi guru. Di sekitar tahun itu. Yu Tun bergabung dengan mereka.

Di Samarinda-lah Yu Tun mendapatkan suami. Seorang pegawai rendahan di kantor Pemda. Asal Klaten, Jateng. Yang orangnya amat keras. Sudah jodoh. Orang sekeras itu mendapat istri wanita selembut kakak saya. Sang suami meninggal dunia sekitar lima tahun lalu.

Di Samarinda pula Yu Tun menjadi aktivis Muhammadiyah. Yu Tun pernah menjadi ketua Aisyiah Kaltim.

Meski kami keluarga tarekat tapi saya tidak kaget. Kakak perempuan saya satunya lagi juga aktivis HMI. Ketua Korp HMI-wati Jatim.

Mendengar cerita-cerita lama seperti itu Yu Tun terlihat kian semangat. Sampai minta didudukkan. Sebentar. Saya pun minta maaf. Dua tahun tidak menengoknya. Tapi tidak ada satu reaksi tertentu.

Tahun lalu istri saya harus masuk RSUD Samarinda. Untuk diambil batu ginjalnya. Tidak ada RS di Surabaya yang punya alat baru yang diperlukan jenis batu ginjal istri saya. (Baca DI’s Way: Serba Ada di Samarinda)

Saya pun minta Yu Tun diopname. Di kamar depan. Sekalian. Saya menunggui dua pasien.

Betul.

Yu Tun tidak punya penyakit apa pun. Semua normal. Hanya ingatannya menurun. Tapi saya minta agar Yu Tun diinfus. Mungkin vitamin-vitamin.

Lima hari kami berkumpul bersama. Siang-malam. Meski di rumah sakit terasa di rumah sendiri. Fasilitas VIP-nya sangat bagus.

“Adikku dewe” katanya. Kali ini tanpa harus dipancing dengan pertanyaan ‘siapa saya’. “Da-lan,” katanya.

Setelah itu saya masih beberapa kali mengunjunginya. Tapi ingatannya kembali terus menurun. Badannya juga kian lemah.

Minggu lalu, saat saya masih di Kansas, anaknya telepon: Yu Tun sudah kian tidak berdaya. Minuman pun sudah tidak bisa masuk. Saya telepon isteri: agar terbang ke Samarinda.

Saya selalu bercerita kepada istri: bahwa Yu Tun itu bukan hanya kakak. Melainkan juga ibu saya. Saat ibu meninggal, saya masih kelas 6 SD. Adik saya empat tahun di bawah saya. Yu Tun-lah yang menjadi ibu. Bapak tidak mau kawin lagi. Saat Yu Tun pindah ke Samarinda gaji gurunya ditinggal di Magetan. Untuk hidup kami. Dan sekolah kami.

Istri saya tahu itu. Ia bergegas ke Samarinda. Tidak mudah cari tiket ke luar Jawa di dekat hari habis lebaran. Sampai harus lewat Jakarta.

Saya minta istri mewakili saya, ‘adiknya dewe’ itu. Untuk membisikkan kata-kata di telinganya. Bahwa saya minta maaf apa pun yang pernah terjadi selama ini. Dan saya juga memaafkan apa pun yang terjadi.

Di keluarga kami ada kepercayaan ini: kadang orang sulit meninggal karena masih ada ganjalan yang belum terurai. Saya berharap. Anaknya berharap. Ucapan saya via istri saya itu salah satu pengurai ganjalannya.

Saya lihat foto istri saya lagi berbaring di sebelah Yu Tun. Untuk membisikkan kata-kata titipan saya. Dan kata-katanya sendiri. Tentu juga berisi kalimat syahadat dan salawat nabi.

Yu Tun meninggal dua hari kemudian. Istri saya masih di Samarinda.

Di perjalanan ini saya berhenti di pinggir jalan. Di rest area. Melihat foto wajah Yu Tun saat meninggal. Begitu damainya.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Khusnul khatimah. Amin.(Dahlan Iskan)

Tags: Disway
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Kulit Tangkil dari Lebak Ditaksir Pengusaha Rusia

Next Post

Demi Susu Bayi, Tukang Ojek Maling Ponsel

Related Posts

Disway Group Jajaki Kerja Sama Bisnis dengan SIPF dari Jepang
Berita Utama

Disway Group Jajaki Kerja Sama Bisnis dengan SIPF dari Jepang

by Agung S Pambudi
Sabtu, 8 November 2025 22:14

JAKARTA,RADARBANTEN.CO.ID - Disway Group menerima kunjungan Shonan Industrial Promotion Foundation (SIPF) dari Jepang. Direktur Keuangan Disway Group Verry Madur dan...

Read moreDetails

Disway Group Jajaki Kerja Sama Bisnis dengan SIPF Jepang 

Pertama Kali! Disway Group Jalin Kerjasama dengan Brand Kecantikan Lokal B Erl Cosmetics

Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

Bos Radar Banten Group Mashudi Ditunjuk Jadi Direktur Pemberitaan dan Jaringan Disway Group

Menkop Budi Arie: Koperasi Merah Putih Bisa Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Disway Award 2024: Andra Soni Raih Penghargaan Sosok Inspiratif Generasi Muda

Dahlan Iskan Ajak Perusuh DISWAY ke Kampung Agrinex

Ibu Anak

Batu Ganjar

Next Post
Demi Susu Bayi, Tukang Ojek Maling Ponsel

Demi Susu Bayi, Tukang Ojek Maling Ponsel

Ada 1.020 Lowongan Pekerjaan di Job Fair Cilegon

Ada 1.020 Lowongan Pekerjaan di Job Fair Cilegon

RSUD Bukan untuk Cari Untung

RSUD Bukan untuk Cari Untung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Perusahaan Pengemplang Pajak

DJP Banten Tindak 3 Perusahaan Pengemplang Pajak Rp583,2 M, Empat WNA China Tersangka

Rabu, 13 Mei 2026 21:37
isbat nikah kabupaten tangerang

Wabup Intan Ingin Camat dan PKK Percepat Pendataan Peserta Isbat Nikah Terpadu

Rabu, 13 Mei 2026 21:28
untirta gandeng bpjs kesehatan

Untirta Siap Perluas Kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan

Rabu, 13 Mei 2026 21:22
tambang ilegal Gunung Pinang

Dugaan Residivisme Tambang Ilegal dan Perusakan Police Line di Gunung Pinang Jadi Sorotan Publik

Rabu, 13 Mei 2026 21:12
pajak kabupaten serang

Bupati Serang Beri Apresiasi untuk WP yang Patuh Bayar Pajak

Rabu, 13 Mei 2026 21:03
Thailand Open 2026

Hasil Thailand Open 2026, Ginting Langsung Kandas

Rabu, 13 Mei 2026 20:44
Perusahaan Pengemplang Pajak

DJP Banten Tindak 3 Perusahaan Pengemplang Pajak Rp583,2 M, Empat WNA China Tersangka

Rabu, 13 Mei 2026 21:37
isbat nikah kabupaten tangerang

Wabup Intan Ingin Camat dan PKK Percepat Pendataan Peserta Isbat Nikah Terpadu

Rabu, 13 Mei 2026 21:28
untirta gandeng bpjs kesehatan

Untirta Siap Perluas Kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan

Rabu, 13 Mei 2026 21:22
tambang ilegal Gunung Pinang

Dugaan Residivisme Tambang Ilegal dan Perusakan Police Line di Gunung Pinang Jadi Sorotan Publik

Rabu, 13 Mei 2026 21:12
pajak kabupaten serang

Bupati Serang Beri Apresiasi untuk WP yang Patuh Bayar Pajak

Rabu, 13 Mei 2026 21:03
Thailand Open 2026

Hasil Thailand Open 2026, Ginting Langsung Kandas

Rabu, 13 Mei 2026 20:44

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Perusahaan Pengemplang Pajak

DJP Banten Tindak 3 Perusahaan Pengemplang Pajak Rp583,2 M, Empat WNA China Tersangka

by Fahmi
Rabu, 13 Mei 2026 21:37

SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Banten menindak tiga perusahaan yang mengemplang pajak di...

isbat nikah kabupaten tangerang

Wabup Intan Ingin Camat dan PKK Percepat Pendataan Peserta Isbat Nikah Terpadu

by Mulyadi
Rabu, 13 Mei 2026 21:28

TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah menginstruksikan kepada seluruh jajaran camat dan Tim Penggerak PKK untuk mempercepat proses pendataan program...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak