Goni (34), nama samaran tak habis pikir dengan sikap istrinya, sebut saja Sari (34), yang tak pernah mau berjuang mengambil hati mertua. Hanya karena Goni lebih membela ibunya selama berumah tangga, Sari memilih menjalin hubungan terlarang dengan pria lain di kampungnya. Oalah.
Kini, rumah tangga yang sudah dibangun selama delapan tahun lamanya hancur berantakan. Kasus perselingkuhan Sari terjadi enam tahun silam. Padahal, pasangan asal Kecamatan Bojonegara itu sudah dikaruniai dua anak yang mulai tumbuh remaja. Tak hanya itu, Goni yang saat itu masih berprofesi sebagai karyawan industri juga sudah mampu membangun rumah untuk masa depan mereka. “Tapi ya, namanya sudah kepalang emosi, semua perjuangan untuk membahagiakan anak-istri sirna,” sesalnya. Sabar Kang.
Goni ditemui Radar Banten di depan minimarket di Kecamatan Bojonegara. Kini Goni sudah beralih profesi menjadi penjual gorengan di halaman toko waralaba. Saat itu, Goni terlihat duduk sambil melamun, sesekali memainkan ponsel. Tak berapa lama, ia berdiri melayani pembeli. Sambil melayani pelanggan yang membeli gorengan, Goni pun bercerita tentang kisah rumah tangganya yang kandas hanya gara-gara istri tidak akur dengan ibunya.
Goni mengenal Sari usai acara reunian teman seangkatan semasa SMA di sekolah. Waktu itu Sari kekasih salah satu teman sekolahnya. Di lokasi acara itu, rupanya Goni diam-diam naksir Sari meski sadar bahwa idamannya itu sudah ada yang punya. Namun, tampaknya ketertarikan Goni melupakan segalanya dan siap dicap sebagai ‘pagar makan tanaman’ alias berani mengkhianati teman demi ketertarikannya terhadap sang betina. “Tapi saya enggak nikung pas status Sari masih pacaran, saya enggak berani macam-macam. Pas hubungan Sari sama teman saya udahan, baru deh tancap gas,” akunya. Gercep amat, sudah enggak nahan ya!.
Setelah mengetahui Sari berstatus jomblo, Goni mulai beraksi terus mendekati dan mencuri perhatian Sari. Mulai dari mengirim pesan singkat memberikan perhatian, hingga mengirim pulsa. Upaya Goni pun membuahkan hasil. Sebulan kemudian Sari menerima ajakan Goni untuk sekadar jalan-jalan dan makan berdua. Dari acara ngedate itu, Goni pun tak butuh waktu lama untuk menyatakan hasratnya terhadap Sari. “Alhamdulillah langsung diterima. Pokoknya bahagia banget waktu itu, enggak peduli dia bekas pacar teman, yang penting jadian,” ucapnya bangga. Enggak bekas juga asal masih mulus lus lus.
Sayangnya hubungan mereka tak direstui orangtua Goni. Terlebih ibunya karena pernah berkonflik dengan keluarga Sari masalah jual beli tanah. Namun, keduanya tak menyerah. Mereka tetap melanjutkan hubungan, bahkan mengarah serius. Apalagi saat itu Goni sudah diterima bekerja sebagai karyawan pabrik di Bojonegara. Merasa punya penghasilan cukup, ia pun langsung melamar Sari. Kedatangan Goni diterima baik oleh keluarga Sari. “Waktu lamaran juga saya datang ke rumah dia sama bapak doang, yang lainnya enggak mau ngantar,” ujarnya. Kurang lengkap ya!.
Dalam suasana lamaran, kedua pihak sepertinya sudah melupakan masa lalu yang pernah berkonflik. Sampai akhirnya, mereka menikah tiga bulan kemudian. Sari dan Goni resmi menjadi sepasang suami istri. Mengawali rumah tangga, Goni mengajak Sari tinggal di rumahnya bersama keluarga. Sari pun berusaha tegar walaupun tidak menerima perlakuan yang baik dari ibu mertuanya. Sari dicuekin hingga dijutekin yang kerap membuat Sari emosi. Baru seminggu tinggal bersama, Sari akhirnya menyerah dan memaksa untuk dipulangkan ke rumah orangtuanya. Demi rasa sayangnya, Goni menuruti kemauan Sari. Sejak itu, Goni jadi sering bolak-balik pulang ke rumah menemui ibunya dan ke rumah mertua menemui istri. Beruntung hubungan itu masih dapat dijalani dan dilalui mereka. Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Meski begitu, hubungan Sari dan ibu mertua tetap tak berubah.
“Saya dibikin pusing tujuh keliling. Setiap pulang kerja pasti baik ibu maupun istri minta saya pulang ke rumah mereka, enggak ada yang mau ngalah, pusing jadinya,” keluhnya. Jadi milih istri apa ibu nih?
Kondisi itu terus berlangsung hingga lima tahun lamanya. Sampai kemudian Goni membangun rumah setelah dikaruniai dua anak. Bukannya terbangun mahligai kebahagiaan dalam rumah tangga seiring usianya yang mulai dewasa, Goni malah merasa ada yang berubah dari sikap Sari. Awal menikah, Sari masih bisa menjaga amarah ketika diacuhkan oleh ibunya. “Tapi, ke sini-sininya dia (Sari-red) mulai berani marah-marah dan melawan. Makanya kami jadi sering ribut,” kenangnya.
Namun, tampaknya sikap Goni dianggap lebih membela ibunya sehingga membuat Sari murka. Sejak kejadian ribut itu, Sari mulai jaga jarak. Goni mencoba bersikap sewajarnya dan menganggap hubungan mereka baik-baik saja. Terlebih saat menyadari kalau ibunya sudah mulai sering sakit-sakitan. Sejak itu, perhatian Goni lebih banyak dituangkan kepada ibunya ketimbang istrinya. Merasa suami pilih kasih, di belakang Goni Sari nekat menjalin hubungan terlarang dengan lelaki lain di kampungnya. Goni belum menyadari itu. Sampai suatu hari, Sari tiba-tiba meminta cerai. Tentu saja permintaan Sari itu membuat Goni marah dan menanyakan alasan Sari ingin bercerai. Saat itulah, Sari mengaku kalau ia sudah mempunyai calon suami baru yang siap menikahinya. “Saya emosi banget denger istri ngomong gitu. Ya sudah daripada dipertahanin, mending pisah,” kesalnya. Sabar Kang.
Tiga bulan pasca perceraian, Sari menikah lagi. Goni sendiri sampai sekarang masih fokus dengan usaha gorengannya setelah mengundurkan diri dari pabrik. “Walaupun duda, sekarang hidup saya lebih bahagia dan tenang,” katanya. Sabar Kang. Insya Allah dapat istri baru yang lebih menyayangi keluarga. Amin. (mg06/zai/ags)










