SERANG – Hingga pertengahan tahun ini, seluas 9.843 hektare lahan persawahan di Provinsi Banten mengalami kekeringan. Namun, belum dilaporkan adanya gagal panen atau puso.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Banten Agus M Tauchid mengatakan, sebelum terjadi puso pihaknya memberikan bantuan seperti pinjam pakai pompa air kepada petani. “Kami siapkan 15 sampai 20 unit pompa air yang mobile,” ujar Agus kepada Radar Banten, Rabu (3/7).
Agus menguraikan, 9.843 hektare itu tersebar di empat kabupaten kota di Banten. Jumlah itu terdiri dari kondisi ringan seluas 6.211 hektare, sedang 3.337 hektare, dan berat 295 hektare. Sementara lahan waspada kekeringan di Banten ada 34.566 hektare.
Lahan yang terkena dampak kekeringan paling banyak di Kabupaten Pandeglang, yakni 9.019 hektare. Jumlah itu terdiri dari kondisi ringan seluas 5.403 hektare, sedang 3.321 hektare, dan berat 2.95 hektare dengan umur tanaman 15 sampai 85 hari.
Berikutnya, Kabupaten Lebak seluas 455 hektare dengan kondisi ringan. Lalu, Kabupaten Serang seluas 272 hektare dengan kondisi ringan seluas 256 hektare dan sedang 16 hektare. “Kabupaten Tangerang seluas 97 hektare dengan kondisi ringan,” urainya.
Kata Agus, apabila dalam sepekan ke depan tidak ada hujan, maka kategori kerusakan lahan akan meningkat. Dari yang sebelumnya ringan menjadi sedang, dari sedang menjadi berat, dan dari berat menyebabkan puso. Dengan kondisi itu, pihaknya belum dapat mengetahui berapa kerugian yang akan dialami para petani. “Nanti ketahuan setelah panen, berapa yang gagal panen karena kekeringan. Kalau sekarang tidak bisa,” tuturnya.
Ia mengatakan, berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi Klas II Tangerang Selatan, sebagian wilayah di Banten akan mengalami curah hujan sangat rendah pada Juni. Sedangkan pada Juli kategori curah hujan masuk kategori rendah. “Sehingga wilayah yang terkena kerusakan tanaman akibat kekeringan pada Juli akan terjadi di Serang, Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Ini sudah terpetakan oleh kami,” terangnya.
Agus mengungkapkan, dengan kondisi itu, Distan melalui Balai Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan telah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya dengan melakukan pompanisasi dengan metode pinjam pakai ke kelompok tani. Ada 20 unit mesin pompa dari ukuran tiga hingga enam inci. Pihaknya juga menyiapkan brigade alsintan (alat mesin pertanian-red) mobile. Kalau hal itu optimal, maka kemungkinan besar status kekeringan bisa turun, dari berat jadi ringan dan seterusnya.
Selain bantuan alat, pihaknya juga intens memberikan pemahaman terjadi masa tanam. Ia berharap, para petani tidak memaksakan menanam jika memasuki musim kemarau untuk lokasi sawah tadah hujan dan tidak ada sumber air. Ia juga mengarahkan petani memiliki asuransi usaha tanaman padi (AUTP), yang besaran preminya Rp36 ribu per hektare. Apabila terjadi kegagalan, kekeringan, kebanjiran, hama, dan puso klaim asuransinya mencapai Rp4 juta.
Meskipun ribuan hektare lahan pertanian kekeringan, Agus memastikan tidak memengaruhi terhadap cadangan pangan di Banten. Dari 420 ribu angka tanam, lahan yang terkena kekeringan hanya 2,3 persen berpengaruh terhadap ketahanan pangan.
GANTI POLA TANAM
Dihubungi di tempat berbeda, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang Budi Suherdiman Januardi mengatakan, wilayah pertanian yang mengalami kekeringan tersebar di Kecamatan Sumur, Cimanggu, Cibaliung, Cibitung, Cikeusik, Cigeulis, Panimbang, Sobang, Munjul, Angsana, Sindangresmi, dan Picung. Lalu Kecamatan Bojong, Saketi, Cisata, Pagelaran, Patia, Sukaresmi, Carita, dan Kecamatan Mandalawangi.
Untuk mengantisipasi kekeringan tersebut, lanjutnya, instansinya telah melakukan brigade alsintan, menyiapkan pompa serta embung-embung air di setiap desa. “Kami telah melakukan antisipasi dengan mengirim pompa air di wilayah kekeringan yang ada sumber air yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Sedangkan petani yang memiliki lahan pertanian yang jauh dari sumber air disarankan mengganti pola tanam dari padi menjadi palawija. “Dianjurkan melakukan penggantian pola tanam atau komoditas dengan tanaman yang relatif sedikit kebutuhan airnya di antaranya jagung atau palawija,” katanya
DI LEBAK MELUAS
Sementara kekeringan di Lebak terus meluas. Kekeringan paling parah terjadi di Kecamatan Wanasalam dan Malingping. Di Wanasalam kekeringan tersebar di tujuh desa, yakni Desa Cipedang, Cisarap, Parungpanjang, Parungsari, Cikeusik, Cipeucang, dan Desa Wanasalam.
“Luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan terus bertambah. Data dari UPT Pertanian Kecamatan Wanasalam, luas lahan yang terdampak kekeringan mencapai 369 hektare,” kata Camat Wanasalam Cece Saputra, kemarin.
Alumnus Universitas Lampung (Unila) itu mengakui, Distan Lebak telah memberikan bantuan pompanisasi kepada kelompok tani di Wanasalam. Namun, ketersediaan air permukaan di Wanasalam terbatas. Akibatnya, bantuan pompanisasi belum maksimal.
“Sekarang sudah memasuki musim kemarau sehingga sawah petani di Wanasalam terancam gagal panen,” jelasnya. (nna-tur-dib/alt/ira)










