TANGERANG – Isak tangis Irma Sanita (21), kekasih Nanda Saputra (21), salah satu korban kecelakaan truk di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, tak terelakkan lagi. Bagaimana tidak, ia dan korban berencana menjajaki hubungan lebih serius lagi, yakni dengan menggelar lamaran yang direncanakan akan dihelat pada 25 Agustus 2019.
Begitu wartawan Radar Banten memasuki ruang mayat RSUD Kabupaten Tangerang, belasan keluarga korban berkerumun di lorong tepat di kamar mayat korban kecelakaan truk, Kamis (1/8). Sebagian keluarga korban berdiri, ada juga yang duduk di kursi besi yang disediakan rumah sakit untuk menunggu di ruangan tersebut.
Di atas bangku besi stainless berwarna silver, Irma yang mengenakan kerudung warna abu-abu terlihat duduk bersama kerabatnya. Mata Irma lebam lantaran menangisi kekasihnya yang meninggal mengenaskan dalam kecelakaan, kemarin.
Terhitung tiga tahun sudah perempuan yang mengenakan jaket merah marun itu menjalin hubungan dengan Nanda. Perempuan kelahiran Padang itu telah mengenal korban sejak lama hingga akhirnya memutuskan untuk berhubungan serius. “Saya kenal waktu masih di Padang, dekat sama almarhum (Nanda-red) saat berjualan di Pasar Kebonbesar, Batuceper,” katanya kepada Radar Banten dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di depan kamar mayat RSUD Kabupaten Tangerang, Kamis (1/8).
Diketahui, Irma dan Nanda berjualan pakaian di Pasar Kebonbesar, Kecamatan Batuceper. Rumah toko (ruko) yang ditempati keduanya bersebelahan dan dari situ keduanya mulai menjalin asmara.
Pasca Idul Fitri lalu, Irma dan Nanda berencana merajut kasih ke jenjang yang lebih serius lagi dengan bertunangan. Ia dan keluarganya sudah sepakat dan menentukan tanggal lamaran keduanya.
“Tunangannya tanggal 25 bulan ini (Agustus-red), rencana menikahnya tahun depan,” lanjut perempuan yang memakai rok hitam itu.
Irma mengaku, tidak pernah menyangka kekasih hatinya meninggal dalam kejadian tragis. Namun, Rabu (31/7), mendiang Nanda yang dikenal ramah dengan pedagang pasar lainnya mengeluh kelelahan. “Dia (Nanda-red) bilang enggak enak badan, tapi dipaksa kerja (jualan-red) dua hari kemarin, dia bilang capek juga,” urainya.
Sesekali Irma memeluk kerabat dan rekan yang datang sambil terus mengeluarkan air mata dan mengusap dengan lengan jaketnya. Banyak hal yang diakui Irma tidak bisa dilupakan dari Nanda.
“Dia orangnya selalu terlihat ceria, sok kenal dan suka menyapa orang, kalau sama saya dia suka cerita kalau ada masalah. Saya setiap hari pulang dan pergi ke pasar selalu bersama,” ucapnya lirih.
Mendiang Nanda juga terbilang paling jago mengambil hati ia dan keluarganya sehingga Irma memutuskan untuk serius dengan almarhum. “Nanda sosok yang sopan, bisa ambil hati keluarga saya juga,” pungkasnya.
Sementara itu, kakak sepupu Nanda, Riki Arief Sardi mengaku, tidak pernah menyangka sepupunya meninggal dalam kecelakaan. “Tidak pernah ada firasat atau pesan yang mengisyaratkan dia mau meninggalkan dunia ini kalau ke saya,” ungkap pria yang juga berjualan di Pasar Kebonbesar itu.
Namun, ia mendengar dari rekannya sesama pedagang Pasar Kebonbesar yang menceritakan bahwa Nanda pernah memberi isyarat pada salah satu pedagang. “Sama Empok (sebutan salah satu pedagang di Pasar Kebonbesar-red) pernah bilang ‘Kalau gua mati bakalan pada kangen’. Entah itu isyarat atau bukan karena almarhum ngomongnya sambil bercanda,” urainya. (*)









