Baim (31), nama samaran, memilih setia kepada istri tercinta, sebut saja Leha (30), yang putus asa karena orangtua suami tidak pernah menyukainya. Leha pun berbalik benci pada Baim, tetapi Baim justru berusaha mempertahankan rumah tangga meski terluka dengan sikap istrinya. Astaga.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Gunungsari, Baim siang itu sedang asyik duduk sambil ngopi di sebuah gardu, sebatang rokok terjepit di kedua jarinya. Iseng-iseng mengobrol, Baim malah curhat tentang kisah rumah tangganya yang pilu.
Diceritakan Baim, perjumpaannya dengan Leha bermula sejak masa kuliah dulu. Keduanya satu organisasi, Baim dan Leha sama-sama berasal dari Kecamatan Gunungsari. Sejak itu, modus-modus ala senioritas pun dilakukan Baim, mulai dari menghukum Leha dengan menyuruh membeli sesuatu, hingga mewajibkan ikut rapat sampai malam. “Pulangnya kan bisa saya anterin ke kosan,” ungkap Baim.
Kata Baim, Leha wanita cantik. Bulu matanya lentik dan memiliki lesung pipi di bagian wajah sebelah kiri. Meski penampilannya sederhana, Leha terlihat menarik karena sikapnya yang jutek. Baim termasuk lelaki tampan, penampilannya juga keren. Bahkan, setiap harinya Baim sering membawa mobil pribadi.
Maklumlah, Baim anak orang kaya. Bapaknya punya sawah dan usaha di Serang. Nasib baik Baim tidak terjadi pada Leha yang terlahir dari keluarga miskin. Ayah ibunya tidak bekerja karena sudah tua, bahkan Leha membantu membiayai sekolah adiknya dengan berjualan kosmetik melalui online sejak kuliah.
Mengetahui Leha berjualan, Baim pun sering membeli kosmetik untuk kakak atau ibunya. Hingga akhirnya Leha pun menyukai Baim, mereka pun jadian. Setiap hari pasti pulang-pergi kuliah berdua. “Kita pacaran dari semester empat sampai lulus kuliah,” kata Baim.
Setelah lulus, Baim pun mengenalkan Leha kepada kedua orangtua. Namun, ternyata keluarga Baim tidak merestui hubungan mereka karena status ekonomi Leha yang miskin. Leha sempat minder dan bilang putus, tetapi Baim tidak mau dan malah mengaku ingin segera menikah. “Sudah sayang banget sama dia,” kata Baim.
Mendengar keseriusan Baim, Leha pun luluh. Apalagi saat Baim meyakinkannya dengan harapan jika sudah menikah, kedua orangtua dan seluruh keluarga pasti perlahan akan merestui. “Saya paksa minta orangtua supaya ngerestuin, biasalah, pura-pura ngancem mau kabur dari rumah gitu,” akunya.
Sebulan kemudian mereka pun menikah. Baim memaksa Leha untuk tinggal di rumahnya bersama keluarga. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena sikap orangtua dan keluarga Baim kepada Leha sangat cuek. Baru tiga minggu, Leha langsung minta pulang. “Ya sudah akhirnya kami tinggal bareng keluarga Leha,” katanya.
Beruntung orangtua Leha sabar, selalu menasihati agar mereka tetap bertahan dan berusaha membuat orangtua Baim mengubah sikap. Berbagai usaha pun dilakukan, mulai dari sering mengirim makanan, menjenguk saat anggota keluarga Baim sakit, sampai memberi hasil bumi, tetapi keadaan tidak berubah. “Saya sering ngamuk ke keluarga karena enggak pernah mau menerima Leha,” tukasnya.
Semakin lama, akhirnya Leha merasa lelah dengan keadaan. Sikapnya kepada Baim berubah menjadi benci. Entah sudah berapa kali Leha meminta cerai. Baim menolak dan ingin terus mempertahankan rumah tangga. “Biarin dia jadi cuek sama saya, yang penting saya masih sayang ke dia,” akunya. Duh, sedih amat sih, Kang.
Sampai sekarang, hubungan mereka masih merenggang. Setiap kali Baim memberi perhatian, Leha selalu membalasnya dengan bentakan. Banyak teman-temannya menyarankan agar Baim menikah lagi, tapi ia menolak. “Saya bakal tetap setia walaupun terluka,” tegasnya.
Ya ampun, sabar ya Kang Baim. Semoga Teh Leha cepat dapat hidayah dan mengubah sikapnya. Amin. (mg06/zee/ira)









