TANGERANG – Ribuan warga mengikuti Pawai Sarungan Nusantara yang merupakan rangkaian Festival Al-A’zhom ke-8, Minggu (8/9). Sebelum melakukan pawai, para peserta berkumpul di titik start di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini seluruh peserta mengenakan pakaian adat Nusantara. Namun tetap menggunakan sarung yang merupakan tema pawai. Rute dimulai dari Puspem menuju Jalan Daan Mogot. Lanjut ke Jalan Raya Merdeka dan melintasi Jembatan Gerendeng. Lalu ke Jalan Benteng Jaya, hingga selesai di Masjid Raya Al-A’zhom.
Walikota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, penggunaan pakaian adat Nusantara sekaligus memperkenalkan budaya nusantara kepada masyarakat. “Indonesia adalah negara yang kaya akan khazanah budaya. Salah satunya adalah pakaian adat. Dengan kekayaan budaya itu, kita harus tetap bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa” katanya saat memberi sambutan sebelum melapas rombongan pawai.
Hal lain yang menjadi pembeda pawai sarungan pada tahun ini adalah dengan hadirnya peserta Musabaqah Tillawatil Qur’an (MTQ) antara bangsa yang diikuti sebanyak enam perwakilan negara tetangga serta hadirnya Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Tan Sri HJ Mohd Ali Bin Mohd Rustam dan Ketum BKPRMI Said Aldi Al Idrus. “Ini jadi kesempatan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah juga wathoniyah,” ungkapnya.
Sebagai informasi, pada kegiatan pawai sarungan yang rutin digelar sejak 2016 lalu menempuh rute sejauh 4,6 Km. Selain itu, ada pula doorprize dengan hadiah utama satu paket umroh serta berbagai hadiah hiburan. “Semoga dengan kegiatan ini, warga Kota Tangerang khususnya bisa semakin menghargai berbagai perbedaan budaya dan semakin menjunjung tinggi persatuan,” pungkas Presiden Diretur PT. Sari Asih Group itu.
Penampilan ribuan warga Tangerang yang mengikuti pawai sambil mengenakan sarung tersebut berhasil memukau Presiden Dunia Melayu Islam Tan Sri HJ Mohd Ali Bin Mohd Rustam. Rustam mengaku terpesona dengan even Festival Sarungan Nusantara. Karena para peserta yang berasal dari 20 provinsi di Indonesia kompak mengenakan busana adat. “Kegiatan ini amat baik, ya. Apalagi mendapat dukungan dari warga,” ucapnya.
Rustam setuju kegiatan tersebut sangat baik untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Ia bahkan mengharapkan kegiatan dapat rutin dilakukan setiap tahunnya. “Ini patut diadakan setahun sekali. Sehingga budaya dapat dipertahankan dan tidak punah,” urainya. (one/asp)









