Toko Krakatau menjadi saksi bisu perdagangan di Royal, Kota Serang. Toko pakaian branded yang sudah berusia lebih dari 40 tahun itu bertahan di tengah persaingan dengan mal dan perdagangan sistem elektronik.
Aas Ahmad Arbi S – Serang
Pemiliknya bernama Liem Oei Ping. Usianyanya sudah tua untuk ukuran orang Indonesia, 78 tahun. Meski tua ia masih terbilang energik. Masih suka olahraga dan jalan-jalan ke hutan.
Saat berbincang bincang dengan Radar Banten tentang masa kecil dan merintis usaha, ingatan pria yang akrab disapa Koh Iping atau Pak Iping ini masih kuat. Berbicara runut dan panjang. Saat tertawa mengisahkan riwayat hidupnya yang lucu, giginya terlihat masih rapi.
Pria kelahiran Paleleh, Buol, Sulawesi Tengah ini, merintis usaha di Royal tahun 1967. Membuka toko kelontongan campur baju. Nama tokonya Fajar. Lokasinya berseberangan dengan Toko Roy. Gedung Toko Fajar yang berganti kepemilikan, Koh Iping akhirnya mencari tempat usaha baru. Pada 1975 ia menempati sebuah gudang di Jalan SA Tirtayasa No 64, yang diubah menjadi toko yang diberi nama Krakatau. Memberi nama toko sebuah gunung yang meletus sangat dahsyat pada 1883 karena kagum. Inspirasinya muncul suatu sore setelah bertamasya di Pantai Anyar bersama seorang perempuan.

Merintis Toko Krakatau di usia 30 tahunan, Koh Iping teringat fiolosfi ai ye cing ye. Artinya, mencintai usaha, menghormati profesi. Ketika ada penawaran usaha baru, jangan langsung tergiur. Jangan meninggalkan usaha yang lama sebelum usaha yang baru berhasil. Oleh karena itu, di toko baru Koh Iping berjualan pakaian dengan tidak meninggalkan jualan kelontongan.
Ia pun berpikir keras bagaimana caranya toko bisa punya pelanggan banyak dan terkenal. Ia memakai cara ini. Toko buka mulai pagi hari dan tutup malam hari. Tapi jangan pernah libur kalau ada hari libur. Misalnya, ada libur Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, toko tetap buka. Hanya jam bukanya saja berubah. Buka mulai pukul dua siang sampai malam.
Baginya, toko tidak libur sepanjang tahun sebuah keuntungan. Ketika toko yang lain tutup dan tokonya tetap buka, pelanggan toko lain datang dan jadi pelanggan. Tapi kalau toko ada liburnya, pelanggan bisa cari toko lain. Apalagi mencari pelanggan itu susah. “Itulah bedanya berusaha dan berdagang. Usaha itu jangan sampai mati,” ungkap Koh Iping.
Meski toko tak pernah libur hingga saat ini, karyawan tetap mendapatkan jatah libur. Bekerja enam hari dalam seminggu. Karyawan juga dapat libur Lebaran delapan hari, izin sakit, dan izin tidak bekerja karena ada urusan keluarga. Toko tidak pernah libur karena Koh Iping memiliki karyawan lebih dari yang dibutuhkan.
Perlahan usaha semakin maju. Awal 1990, dipercaya menjadi agen penjualan pakaian bermerek. Tokonya mendapatkan pasokan jeans Amco, Lea, dan Levi’s. Di Royal saat itu belum ada toko modern atau mal. Menjual produk bermerek adalah terobosan, sekaligus ingin membuat citra bahwa di tokonyalah dijual produk branded dan berkualitas.
Ada terobosan, ada tantangan. Ia menikmatinya. Saat itu orang bertanya-tanya, apakah produk yang djualnya asli atau palsu. Pembeli tidak berani bertanya langsung kepada dirinya sebagai pemilik. Apalagi pemiliknya keturuan Tionghoa. Konsumen hanya berani bertanya sambil berbisik kepada para karyawannya yang penduduk Serang. “Semua karyawan saya pribumi. Saat itu kalau ditanya oleh sesama pribumi, pasti tidak akan bohong dong. Mereka jujur,” kata Koh Iping.
Di situlah ia menanamkan pentingnya kejujuran kepada karyawan dan agar pandai berpromosi. Semua produk yang djual adalah barang asli yang dipasok langsung dari agen di Jakarta. Bagi Koh Iping, kejujuaran adalah modal yang sangat berharga. “Ke karyawan, saya bilang jangan berbohong. Saya juga tidak tertarik menjual barang palsu yang untungnya besar tapi hanya sesaat. Orang akan kecewa. Nanti tidak akan datang lagi ke toko,” ungkapnya.
Tak hanya itu tantangan menjual produk branded di era-90an. Banyak yang datang ke toko tapi hanya melihat barangnya dan sekadar tanya harga. Ada yang bilang mahal, bahkan tidak beli. Tapi ia tidak kecewa. Hanya masuk toko dan melihat-lihat barangnya saja, pertanda baik. Koh Iping berpikir positif. Orang datang ke toko dan lihat barang, berarti matanya sudah berbelanja. Suatu waktu punya uang, akan datang lagi ke toko dan beli. Hal itu menjadi kenyataan. Pelanggan berdatangan. Tokonya jual jeans bermerek jadi terkenal.
Tantangan datang lagi. Di kawasan usahanya berdiri toko modern pertengahan tahun 1990-an. Apalagi saat ini mal besar telah hadir. Pertama kali ada toko modern, Koh Iping yang pernah jadi sales kelontongan di era 60-an, ternyata memiliki rasa takut juga. Ia berpikir untuk mengatasinya.
“Kalau diibaratkan lawan kita seorang raksasa, jangan dihadapi dengan frontal. Kalau kita bisa seperti biawak, menyelinap dan lewatilah kedua kaki raksasa itu. Kalau tidak bisa seperti itu, ya jadilah seperti burung elang. Terbanglah melintasi kepalanya,” ungkap Koh Iping.
Tidak melakukan persaingan secara frontal, Koh Iping melakukan strategi lobi. Para agen pemasok barang supaya memberikan diskon lebih besar lagi sehingga bisa menjual barang dengan harga yang sama dengan di mal atau tempat lain.
Di awal 90-an, ada sekira 200 toko di Indonesia yang dijadikan mitra atau sebagai agen yang menjual pakaian merek terkenal. Beberapa waktu lalu saat pertemuan di Jakarta, sudah banyak yang tutup. Yang masih bertahan tidak lebih dari sepuluh, termasuk Toko Krakatau. (*)










