SERANG – Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kementerian Perhubungan RI Irjen Pol Budi Setiyadi mengingatkan kepada dosen dan mahasiswa untuk memegang teguh jati diri sebagai bangsa Indonesia. Apalagi di era globalisasi banyak nilai-nilai baru yang masuk yang perlu disaring dampaknya.
“Jadi ini di luar tugas pokok saya. Sebagai bagian dari bangsa, sebagai warga negara, saya menanamkan kembali kepada para dosen di UIN termasuk para mahasiswa untuk penguatan kembali. Negara kita ini sekarang sedang dimanfaatkan, sadar tidak sadar banyak nilai baru yang sekarang masuk ke masyarakat,” ungkap Budi usai menjadi narasumber pada seminar dalam rangka Dies Natalis ke-57 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Senin (21/10), di kampus Ciceri, Kota Serang.
Memang, lanjut dia, sudah menjadi suatu keharusan bagi warga negara di era globalisasi ini menyaring nilai yang bermanfaat. Setiap nilai yang masuk ke negara Indonesia itu ada yang negatif dan positif. Contoh yang baru narkoba, anak punk, dan radikalisme.
“Saya mengingatkan kepada semuanya. Kesimpulannya bahwa kita punya empat konsensus yaitu Pancasila, Undang Dasar 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Di masing-masing empat konsep ini mempunyai nilai-nilai positif semuanya untuk kita. Ini adalah ciri khas Indonesia banget. Ini adalah nilai yang digali dari kehidupan kita,” ungkap Budi.
Sepanjang masih membawa nama bangsa Indonesia, lanjut dia, jangan tinggalkan masalah religius. Jangan tinggalkan masalah keadilan, gotong-royong, toleransi dan juga kemasyarakatan.
Ia pun mengakui bahaya yang mengancam dari radikalisme, narkoba, dan kemiskinan. Makanya Presiden Joko Widodo lima tahun pertama kepemimpinannya menyampaikan kerja, kerja, kerja. Sekarang kerja keras, kerja keras, kerja keras.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof Dr Fauzul Iman MA mengapresiasi pernyataan Dirjen Hubdar yang menjadi pembicara mengenai semangat kebangsaan dan keindonesiaan. Pada sesi dialog dengan mahasiswa, Dirjen Hubdat meminta mahasiswa untuk mengungkapkan pandangannya mengenai Indonesia dan persatuan. Rektor juga mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa tentang masalah radikalisme.
Dirjen Hubdat memberikan hadiah smart phone kepada mahasiswa yang pendapatnya paling baik dan hadiah helm SNI bagi mahasiswa yang berani mengungkapkan pendapatnya. (aas)








