Event Bedol Pamarayan menjadi pesta rakyat di Kabupaten Serang bagian selatan. Tradisi ini sudah dilakukan warga Kecamatan Pamarayan dan sekitarnya sejak zaman penjajahan.
ABDUL ROZAK – SERANG
Rabu (23/10) pagi, ribuan warga Kecamatan Pamarayan dan Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang dan sekitarnya berbondong-bondong menuju Bendung Pamarayan. Mereka membawa peralatan tangkap ikan tradisional seperti jaring dan jala. Kemudian, mereka berjejer di bantaran Bendung Pamarayan tepatnya di aliran Sungai Ciujung.
Sementara, arus lalu lintas di wilayah tersebut macet. Kendaraan roda empat dan roda dua saling berdesak-desakan. Ratusan pedagang juga sibuk menawarkan dagangan kepada warga yang berada di kawasan Bendung Pamarayan.
Tepat pukul 10.00 WIB, terdengar sirene dari arah Bendung Pamarayan. Perlahan-lahan pintu bendung terbuka. Air Sungai Ciujung tumpah mengalir deras. Bendung Pamarayan pun mulai mengering, dan perlahan-lahan terlihat gundukan lumpur dari dasar Sungai Ciujung.
Ribuan warga kompak turun ke dasar Sungai Ciujung. Sambil membawa peralatan tangkap ikan tradisional, mereka berebut ikan di dasar sungai. Ikan-ikan yang terdampar di atas lumpur ditangkap oleh warga. Seperti pesta rakyat, warga terlihat antusias berebut ikan di bendung yang sudah dikuras itu.
Aksi berebut tangkap ikan itu ternyata bukan hanya aktivitas biasa. Berdasarkan keterangan dari sejumlah warga yang ditemui Radar Banten, aktivitas warga itu sudah menjadi ritual tahunan sejak lama. “Ini sudah lama, kalau enggak salah zaman penjajah juga sudah ada,” kata seorang warga bernama Sahadi sambil mencangking hasil tangkapan ikannya.
Penyurutan air pada awalnya untuk keperluan perawatan pintu air di Bendung Pamarayan. Namun, melihat ikan-ikan terkapar, warga memanfaatkan momen itu untuk menangkap ikan. Aktivitas warga itu kemudian menjadi kebiasaan warga setiap musim kemarau karena saat musim kemarau debit air tidak begitu deras. “Sejak saya kecil ini sudah ada,” kata lelaki berusia kisaran 50 tahunan ini.
Bendung Pamarayan merupakan buah tangan dari Pemerintah Kolonial Belanda pada 1908. Proses pembangunan bendung ini diselesaikan pada 1914. Setelah selesai dibangun, bendung itu kemudian langsung dialiri air dari Sungai Ciujung. Kemudian pada 1997, bendung itu dipindahkan ke lokasi yang tak jauh dari sebelumnya. Sejarah mencatat, relokasi itu dilakukan karena mengalami kerusakan berat pada konstruksi bendung pada 1994.
Sementara di lokasi yang tak jauh dari Bedol Pamarayan, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah bersama pejabat Pemkab Serang membuka event tersebut. Event Bedol Pamarayan bukan hanya sekadar menangkap ikan saja, akan tetapi juga dirangkai dengan sejumlah kegiatan untuk menarik pengunjung.
Acara juga melibatkan sejumlah siswa asal Papua yang memeragakan seni rampak beduk. Siswa asal Papua itu tampak mahir memainkan kesenian asal Provinsi Banten itu. “Sengaja kita melibatkan siswa asal Papua supaya mereka juga ikut berbaur dengan kita di sini,” kata Tatu.
Setelah meresmikan acara di panggung utama, Tatu meninjau stan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ada lebih dari 40 stan UMKM yang disiapkan Pemkab Serang untuk memasarkan produk lokal. “Ini upaya kita untuk mengangkat destinasi wisata Kabupaten Serang,” kata Tatu.
Tatu mengatakan, tradisi Bedol Pamarayan menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Serang. Karena, tradisi tersebut jarang ditemukan di daerah lain. “Target kita ingin pengunjung bukan hanya dari Kabupaten Serang saja, tapi juga dari luar daerah bahkan juga mancanegara,” ujarnya.
Event Bedol Pamarayan itu awalnya tidak dilakukan di Bendung Pamarayan. Karena, cuaca kemarau yang dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan air di kawasan pertanian di Kabupaten Lebak. Panitia awalnya mengarahkan event itu di tempat yang berbeda yang tak jauh dari Bendung Pamarayan. Namun, sejumlah warga sempat memprotes rencana itu dan meminta acara tetap dilakukan di Bendung Pamarayan. Hal itu sesuai dengan tradisi yang selama ini dilakukan oleh warga setempat.
Tatu meminta izin kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) untuk membuka Bendung Pamarayan meskipun tidak dengan waktu yang lama. Jika tahun-tahun sebelumnya Bedol Pamarayan berjalan hingga tiga hari akan tetapi tahun ini hanya dibuka beberapa jam saja. “Jadi dikhawatikan saudara kita yang di Lebak tidak ada air, ini juga kita sudah terima kasih kepada kepala balai besar sudah mengizinkan untuk membuka Bendung Pamarayan,” ujar Tatu. (*)











