LEBAK – Anggaran pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) XXXVIII yang digelar di Kecamatan Warunggunung, Rabu (20/11) ini sebesar Rp2,5 miliar. Anggaran tersebut dihibahkan Pemkab Lebak kepada Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) untuk menyukseskan semua rangkaian pelaksanaan kegiatan tersebut.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Lebak Edi Sunaedi menyatakan, anggaran Rp2,5 miliar itu dipergunakan mulai dari perencanaan MTQ sampai dengan selesai. Termasuk, hadiah untuk para peserta MTQ yang berprestasi. “Total anggaran untuk MTQ XXXVIII Rp2,5 miliar. Anggarannya dihibahkan kepada LPTQ Kabupaten Lebak,” tandas Edi Sunaedi kepada Radar Banten, Selasa (19/11).
Edi menginformasikan MTQ XXXVIII akan dilaksanakan pada 20-24 November 2019. LPTQ dan panitia MTQ sejak tahun lalu melarang peserta cabutan dari luar daerah. Karena itu, peserta dari 28 kecamatan harus mendaftar kepada panitia dengan cara online. Jika ada peserta dari luar daerah maka akan langsung didiskualifikasi.
“Saya berharap, pelaksanaan MTQ di Warunggunung berjalan lancar dan sukses,” harapnya.
Ketua LPTQ Kabupaten Lebak KH Pupu Mahpudin membenarkan anggaran MTQ bersumber dari APBD 2019 Rp2,5 miliar. Kata dia, anggaran tersebut sepenuhnya untuk pelaksanaan MTQ tingkat Kabupaten Lebak. “Sumbernya dari APBD 2019. Kita yakin, dengan persiapan yang matang pelaksanaan MTQ XXXVIII berjalan lancar dan sukses,” ungkapnya.
Ditanya terkait Dewan Hakim dan Panitera MTQ, Pupu menyatakan, dewan hakim dan panitera dipastikan akan bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Mereka akan memberikan penilaian obyektif terhadap peserta MTQ.
Para dewan hakim, kata dia, telah disumpah terlebih dahulu agar mereka menjalankan tugas dengan baik dan sungguh-sungguh. “Dewan hakim yang bertugas akan diberikan orientasi terlebih dahulu. Mereka rata-rata sudah bersertifikasi, sehingga mumpuni dalam disiplin ilmunya masing-masing,” paparnya.
Menurut Pupu, sebelumnya jumlah peserta yang mendaftar secara online 1.000 orang lebih. Akan tetapi, setelah diverifikasi hanya 800 orang lebih yang memenuhi syarat. Oleh karena ada beberapa peserta yang berasal dari luar daerah yang didaftarkan. “Target kita bukan juara, karena kita ingin melakukan pembinaan terhadap qari dan qariah lokal secara terus menerus,” jelasnya.
Bupati Iti Octavia Jayabaya mengapresiasi kebijakan dari LPTQ Kabupaten Lebak yang melarang adanya peserta MTQ cabutan. Dia mengatakan setuju, pendaftaran MTQ dilakukan secara online dan saat verifikasi menggunakan finger print.
Menurutnya, apabila masih ditemukan peserta dari luar daerah maka sanksinya harus didiskualifikasi. “Saya enggak mau mendengar lagi ada peserta cabutan. Buat apa berprestasi kalau menggunakan peserta dari luar daerah. Lebih baik kita fokuskan pembinaan secara terus menerus terhadap qari dan qariah lokal,” ungkapnya.
Bupati perempuan pertama di Lebak ini meminta kepada peserta dari 28 kecamatan tidak hanya sekedar mengejar juara umum, tetapi prestasi.
“Pembinaan terhadap qari dan qariah asal Lebak harus terus dilakukan. Berikan kesempatan kepada mereka untuk tampil dalam berbagai kompetisi, sehingga ketika juara pun kita akan bangga,” tegasnya.
Terkait anggaran MTQ, Bupati Iti Octavia Jayabaya menyatakan, tahun depan anggaran untuk pelaksanaan MTQ XXXIX mengalami penurunan. Kondisi tersebut akibat defisit anggaran yang terjadi di Lebak. “Tahun depan anggaran MTQ akan turun dibandingkan tahun ini,” katanya. (tur/zis)










