Syafrudin: Makanya Digelar LRLA
SERANG – Walikota Serang Syafrudin menyatakan ada 120 titik pembuangan sampah liar di Kota Serang. Keberadaan pembuangan sampah liar ini akibat kebiasan buruk warga yang berpotensi memicu konflik sosial. Lomba Resik Lan Aman (LRLA) 2020 yang digelar Pemkot Serang diharapkan mampu mengantisipasi hal tersebut.
“Membuang sampah sembarangan, bisa menimbulkan konflik sosial. Makanya, kami menggelar lomba resik dan aman (LRLA),” kata Syafrudin usai acara Sosialisasi Pengembangan Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik kepada para Tokoh Masyarakat, yang digagas Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Serang, Rabu (11/3).
Persoalan sampah menurut Syafurdin menjadi pekerjaan rumah Pemkot Serang. Soalnya, saat melakukan pendataan, Syafrudin menemukan tak kurang dari 120 titik pembuangan sampah liar di Kota Serang. “Bisa saja, tetangga, pemilik lahan yang dijadikan tempat pembuangan sampah liar itu tidak terima. Ini kan bisa jadi pemicunya. Kita lakukan langkah antisipasi,” terangnya.
Syafrudin berharap LRLA Kota Serang 2020 dapat mengembalikan semangat gotong royong antar-masyarakat. Sehingga lingkungan bersih dapat tercipta. “Semua pihak ingin suasana kondusif, nyaman dan aman,” katanya.
Selain hal itu, kata Syafrudin, pemicu konflik lainnya relatif tak ada. Biasanya, konflik selalu identik dengan gelaran pilkada, pilgub, dan pilpres. “Memang sebenarnya yang agak riskan itu yang ada pemilihan kepala daerah. Tapi, di kita tak ada pilkada,” ujarnya.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Serang Alpedi mengatakan, sosialisasi yang melibatkan para tokoh atau orang yang memiliki pengaruh dilakukan guna terjaganya suasana kondusif serta terhindarnya dari konflik-konflik yang terjadi antar sesama masyarakat. “Kewaspadaan dini dan penanganan konflik ini penting sekali. Pemerintah Kota Serang tidak mungkin melakukan penanganan konflik secara langsung tanpa melibatkan masyarakat,” katanya.
“Kota Serang ini memiliki masyarakat urban. Berbagai latar belakang budaya, agama dan lain sebagainya. Perbedaan itu keniscayaan, kita harus hidup berdampingan damai dengan beragam perbedaan tadi,” tandasnya. (fdr/nda/ags)









