SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mengakui masih memiliki keterbatasan armada mobil tangki air untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, mengatakan pihaknya mulai melakukan berbagai langkah antisipasi, salah satunya dengan memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan berdasarkan data kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Diat, pemetaan tersebut mengacu pada kejadian kekeringan terakhir yang terjadi pada 2024. Sementara pada 2025, Kota Serang tidak mengalami kekeringan sehingga data sebelumnya dijadikan acuan dalam menyusun langkah mitigasi.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada 2026 dengan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi cuaca di sejumlah daerah, termasuk Kota Serang.
“Karena itu kami mulai melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat ketika terjadi kekeringan,” ujar Diat, Kamis, 2 Juli 2026.
Dalam upaya penyediaan air bersih, BPBD tetap mengandalkan kerja sama dengan PT Serang Berkah Mandiri (SBS). Selain itu, BPBD juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten apabila dibutuhkan tambahan armada distribusi air bersih.
Meski demikian, Diat mengakui armada yang dimiliki BPBD Kota Serang saat ini masih belum mencukupi untuk menghadapi kondisi darurat kekeringan dalam skala besar.
Saat ini, BPBD Kota Serang hanya memiliki satu unit mobil tangki air berkapasitas 5.000 liter. Satu kali pengiriman hanya dapat melayani satu titik distribusi air bersih kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, saat terjadi kekeringan armada tersebut mampu melakukan hingga lima kali pengiriman dalam sehari. Namun, jumlah itu masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Menurutnya, BPBD Kota Serang idealnya memiliki tiga unit mobil tangki air agar distribusi air bersih dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau lebih banyak wilayah ketika musim kemarau panjang terjadi.*
Editor : Krisna Widi Aria











