SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Harapan Ardi dan Holikul Amin untuk melanjutkan pendidikan kini bergantung pada hasil seleksi Sekolah Rakyat.
Dua kakak beradik asal Lingkungan Karundang Kolektor, RT 02 RW 05, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, itu masih menunggu penetapan sebagai peserta setelah diusulkan mengikuti program tersebut.
Keduanya diasuh sang nenek, Wacih, setelah ditinggal kedua orang tuanya. Keterbatasan ekonomi membuat mereka sempat terancam putus sekolah.
Penata Layanan Operasional sekaligus Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Farhah Syibli, mengatakan Ardi dan Holikul Amin telah menjalani proses penjangkauan sejak Mei 2026 dan kini tinggal menunggu surat keputusan penetapan peserta.
“Penjangkauan Sekolah Rakyat sudah berjalan sejak Mei. Ardi dan Holikul Amin sudah kami lakukan penjangkauan, datanya sudah masuk ke aplikasi Setara dan sekarang tinggal menunggu SK penetapan,” ujar Farhah, Jumat 10 Juli 2026.
Menurutnya, proses verifikasi masih dilakukan karena terdapat perbedaan data kependudukan.
Holikul Amin tercatat dalam kartu keluarga neneknya yang masuk kategori desil 1, sedangkan Ardi masih tercantum dalam kartu keluarga orang tuanya dengan data sosial desil 3.
Padahal, salah satu syarat calon peserta Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil 1 atau desil 2.
Farhah menjelaskan, kondisi administrasi Ardi berbeda dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Meski masih tercatat dalam kartu keluarga orang tuanya, Ardi telah lama tinggal bersama neneknya karena kedua orang tuanya telah berpisah dan tidak lagi merawatnya.
“Hasil pendataan sudah kami sampaikan sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Saat ini tinggal menunggu hasil verifikasi dan penetapan,” katanya.
Berdasarkan hasil pendampingan, kedua anak tersebut masuk kategori rentan putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Ardi bahkan hampir tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SD, sementara Holikul Amin juga berisiko mengalami hal serupa.
“Saya beberapa kali datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Informasi yang kami terima sama, kedua anak ini memang rentan putus sekolah. Dalam beberapa bulan terakhir saya juga sudah lebih dari enam kali mengunjungi rumah Bu Wacih untuk melakukan pendampingan,” ucap Farhah.
Di rumah sederhananya, Bu Wacih mengaku berharap kedua cucunya dapat diterima di Sekolah Rakyat agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
“Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap sekolah, jadi anak pintar, sukses, dan saleh,” ujar Wacih.
Harapan yang sama disampaikan Ardi. Ia ingin bersekolah di Sekolah Rakyat agar dapat terus belajar tanpa membebani sang nenek.
“Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah. Harapan saya bisa diterima sampai lulus sekolah dan nanti menjadi orang sukses,” katanya.
Saat ini kuota Sekolah Rakyat di Kota Serang masih terbatas. Jenjang SD dan SMP masing-masing hanya menyediakan dua rombongan belajar dengan kapasitas 30 siswa per rombongan belajar, sehingga proses seleksi administrasi masih berlangsung sebelum penetapan peserta dilakukan.
Editor Daru











