Menurutnya, hasil tangkapan nelayan di TPI Binuangeun mencapai 4 – 5 ton per hari. Namun, setelah gelombang tinggi, hasil tangkapan nelayan Binuangeun turun drastis dibandingkan hari-hari biasanya, yaitu kurang lebih hanya satu ton per hari. Jenis ikan hasil tangkapan nelayan, diantaranya ikan tongkol, layur, kembung, tuna, kakap, dan yang lainnya.
“Ikan hasil tangkapan nelayan di sini (Binuangeun-red) lengkap. Banyak jenisnya,” terangnya.
Terkait cuaca ekstrem, Hadi mengaku, sudah memperingatkan nelayan Binuangeun untuk tidak melaut. Tujuannya, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, jika ada nelayan yang tetap memaksa melaut, maka dirinya tidak bisa melarangnya.
“Tapi, kita berharap enggak akan terjadi apa-apa. Nelayan yang melaut diharapkan untuk tetap waspada, karena gelombang tinggi dan angin kencang kerap terjadi secara tiba-tiba,” harapnya.
Rustandi, Kepala Desa Cibareno, Kecamatan Cilograng, menyatakan, jumlah nelayan di Cibareno lebih dari 70 orang. Sekarang, mereka tidak melaut, karena gelombang di pesisir laut di Cilograng tinggi. Para nelayan khawatir, perahu yang digunakan untuk melaut diterjang gelombang sehingga membahayakan para nelayan yang sedang mencari ikan.
“Para nelayan memilih istirahat di rumah. Tapi, jika cuaca membaik, mereka akan kembali melaut,” ungkapnya.
Dia mengatakan, selalu koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Cilograng dan BPBD Kabupaten Lebak. Imbauan dari BPBD dipatuhi semua nelayan yang ada di Cibareno, karena mereka takut terjadi kecelakaan laut.
“Saya sudah sampaikan kepada masyarakat untuk tidak melaut. Saya enggak ingin, perahu mereka dihantam ombak,” tegasnya.(tur)











