Memperhatikan tingkah suaminya, Wita pun mencoba untuk tenang. Sesekali diajak mengobrol, Juned tak mau membuka diri. Keseharian mereka terasa hambar, Juned pulang hanya untuk tidur dan makan, selebihnya pergi lagi. “Enggak pernah lagi ngajak makan bareng, jadi sendiri-sendiri aja,” katanya.
Sampai akhirnya, Wita tak bisa bersabar lagi dan ngambek sambil nangis marah-marah ke Juned atas sikap yang dingin itu. Akhirnya Juned pun jujur soal unek-unek yang disimpannya. “Dia bilang katanya pengen nikah lagi,” curhat Wita.
Wita semakin ngambek, ia mulai teriak-teriak menolak permintaan suaminya. Malam itu juga ia pulang ke rumah orangtua dan mengadu. “Orangtua malah nasihatin, katanya nyuruh saya introspeksi diri,” ujarnya.
Tiga hari kemudian Wita sudah tidak marah, sikapnya sudah bisa tenang. Dengan santai, ia menjawab permintaan suaminya dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi sebelum nikah lagi. “Saya minta wanita yang mau dijadiin istri kedua harus lebih cantik dari saya, terus harus punya hafalan quran yang lebih banyak dari saya,” katanya.
Selain itu, Juned juga harus membangunkan rumah baru yang lebih besar, punya mobil dua, dan harus bisa bersikap adil. Mendengar persyaratan yang diajukan Wita, Juned langsung diam dan tak membicarakan soal poligami lagi. “Kalau dia bisa penuhi syarat itu, ya sok aja poligami,” katanya tersenyum. Waduh, syaratnya ngeri-ngeri sedap. hehe.
Tapi Wita tak berdiam diri, sejak saat itu ia rajin puasa senin dan kamis, memperbaiki pola makan alias diet, rajin olahraga dan selalu berdandan setiap malam. “Alhamdulillah, sejak itu suami enggak pernah ngebahas soal nikah lagi sampai sekarang,” ungkapnya.
Alhamdulillah, semoga selalu harmonis ya Teh. Amin. (drp/air)











