Eko juga merasa Aneh. Eni sangat baik kepadanya, kadang ia dibelikan baju, celana, sepatu. Kadang Eko juga diminta menginap di kosan kalau teman sekamar Eni sedang pulang kampung. “Pernah nginep, cuma enggak ngapa-ngapain kok,” katanya.
Sampai suatu hari, Eko dapat pekerjaan sebagai karyawan minimarket. Waktu itulah Eko memberanikan diri untuk mengajak Eni menuju hubungan lebih serius. “Awalnya dia diem aja, saya kan mikirnya kalau cewek ditanya diem aja, artinya mau,” katanya.
Seminggu kemudian Eko nekat membawa Eni bertemu kedua orangtua. Eni yang awalnya tak diberitahu akan dikenalkan pada keluarga Eko, cuma bisa bersikap diam tak banyak bicara. “Saya kan udah bilang ke orangtua, pengen cepet-cepet ngelamar dia,” katanya.
Saat perjalanan pulang, Eni tetap bersikap diam. Ia masih belum berani jujur kepada Eko. Tiga hari kemudian, barulah Eni menceritakan soal statusnya sebagai janda anak satu, Eko kaget bukan main. “Dia enggak pernah cerita, anaknya tinggal sama ibunya di kampung,” tuturnya.
Tapi meski begitu, lantaran sudah kepalang cinta, Eko tetap melaksanakan niatnya menikahi Eni. Tapi sayang seribu sayang, orangtua dan keluarga tak merestui dan melarang keras Eko menikah dengan Eni. “Saya sampe diancem kalau tetap mau nikah sama Eni bakal diusir dari rumah,” katanya.
Akhirnya mereka batal menikah. Eni yang kecewa kemudian pulang kampung, sampai sekarang, mereka tak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi. “Semua kontak dia enggak bisa saya hubungi,” katanya.
Ya ampun, tragis banget sih Kang. (drp/alt)











