Lebak Diterjang Banjir Lagi
SERANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai Banten masih menjadi daerah yang rawan bencana. Lantaran Banten dekat dengan Selat Sunda yang memiliki empat potensi kerawanan alam.
Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, ada empat potensi kerawanan di Selat Sunda. “Pertama ada zona megathrust 8,7 yang rawan terjadi gempa dan tsuami,” ujar Daryono saat webinar mitigasi gempa bumi dan tsunami di kawasan industri Cilegon, Senin (1/11).
Kedua, lanjut Daryono, ada zona sesar atau patahan aktif di Selat Sunda yang juga rawan menimbulkan gempa dan tsunami. Ketiga, zona graben Selat Sunda yang rawan longsor dasar laut. Terakhir, adanya Gunung Anak Krakatau yang menimbulkan kerawanan longsor dasar laut. “Keempat kerawanan ini pemicu tsunami. Ini yang harus diperhatikan,” tegasnya.
Kata dia, berdasarkan catatan sejarah, di Selat Sunda pernah terjadi gelombang besar. Kalau melihat fakta ini, dulu pernah terjadi gempa kuat dan akan kembali terjadi lagi. Gempa terbesar yang terjadi yakni pada tahun 1903. “Dan yang baru juga terjadi yakni gempa dengan magnitudo 7,4 di Agustus 2019 berpotensi tsunami dan menimbulkan kerusakan di Banten cukup banyak,” ungkap Drayono.
Ia mengatakan, berulangan terjadinya gempa di Selat Sunda sangat nyata. Hasil monitoring BMKG, di Selat Sunda ada zona kawasan gempa potensial. Gempa dengan magnitude 8,7 bisa terjadi kapan saja. Dampak guncangannya terasa di Banten, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat serta bisa menimbulkan kerusakan sedang hingga berat.











