Berdasarkan catatannya, pernah terjadi 10 kali tsunami di Selat Sunda yang disebabkan tiga hal, yaitu gempa tektonik, erupsi Gunung Anak Krakatau, dan longsoran dasar laut. “Gempa kuat, dangkal, bisa menimbulkan tsunami. Bukan hanya karena tektonik saja, tapi erupsi gunung juga. Itu terjadi pada 1883 lalu yang menewaskan 35 ribu jiwa,” lirih Daryono.
Untuk itu, ia mengatakan, semua pihak harus mengakui dan menerima kenyataan bahwa Selat Sunda merupakan kawasan rawan gempa, erupsi gunung api, dan tsunami. “Kita tidak boleh mengabaikan dan melupakan kerawanan dan sejarah bencana masa lalu di daerah ini. Makanya, perlu ada upaya nyata sebagai langkah kesiapsiagaan, mitigasi, dan upaya pengurangan risiko bencana gempa dan tsunami di Selat Sunda. BMKG berupaya semaksimal mungkin dalam mendukung Business Continuity Plan di Kawasan Industri Cilegon,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Utama BMKG, Dwi Budi Sutrisno mengatakan, Banten memang rawan bencana gempa. Bahkan, potensi tsunaminya juga sangat besar. Apalagi di Kota Cilegon penuh dengan kawasan industri yang harus diantisipasi. Lantaran pernah terjadi bencana tsunami di Jepang yang juga menyebabkan kebocoran nuklir.
Untuk itu, ia mengatakan, perlu adanya upaya melakukan mitigasi karena Banten ditakdirkan berada di wilayah rawan bencana gempa bumi dan ikutannya adalah tsunami. “Kita tidak mengharapkan, tapi tidak bisa memprediksi. Maka, harus mempersiapkan diri,” ujarnya.
Sub Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi BMKG Suci Dewi mengatakan, Kota Cilegon adalah kawasan strategis yang memiliki banyak industri, baik itu perusahaan baja besar maupun kimia. Selain itu, ada juga infrastruktur kritis seperti PLTU Suralaya, pelabuhan barang, pelabuhan penyebrangan, dan juga destinasi wisata. “Ini yang kami lihat, selain ada potensi kegempaan dan tsunami, Cilegon juga berisiko dengan adanya kawasan-kawasan itu,” terangnya.











