Nurfadhil menerangkan, Aria Wangsakara lahir pada 1024 Hijriah atau 1615 Masehi. Saat usianya 13 tahun, Aria Wangsakara hijrah ke Tangerang bersama dua saudaranya. Bersama Dipati Ukur, mereka ikut berjuang melawan VOC di Batavia pada 1628.
“Hal itulah lantas bergabung dengan Kesultanan Banten yang anti VOC juga pada 13 Oktober 1632 disebut Tigaraksa, yakni Suriadiwangsa II, Raden Aria Jayasantika, Raden Aria Wangsakara yang ketika itu berusia sekitar 18 tahun, yang kemudian dilantik pihak Kagusten Banten untuk memimpin daerah Tangerang dan tahun 1043 Hijriah atau 1633 Masehi, Raden Aria Wangsakara dilantik menjadi kepala wilayah,” katanya.
Keturunan ke-10 Aria Wangsakara, KRT Mukhlis, mengungkapkan rasa bangganya dengan penganugerahan pahlawan nasional kepada Aria Wangsakara. Mikhlis juga berterima kasih kepada Pemkab Tangerang yang telah mendukung dan membantu dalam proses kajian ilmiah, sehingga Aria Wangsakara mendapat anugerah yang membanggakan keluarganya dan masyarakat Tangerang.
“Ke depan, insya Allah, untuk monumen Raden Aria Wangsakara akan dilakukan penataan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang, sehingga bisa lebih baik lagi dari yang ada sekarang,” pungkasnya. (mul/don)











