Padahal, kata Iis, sejak awal rumah tangga sampai punya anak dua, hubungan mereka baik-baik saja. Dengan ekonomi yang terpenuhi, keduanya selalu terlihat harmonis.
Susah senang bareng-bareng, Oji dan Iis saling percaya satu sama lain. Setiap pergi kemana pun, atau pulang telat, Oji selalu memberi kabar sebagai bukti kejujuran. Begitu pun sebaliknya.
Iis yang hanya ibu rumah tangga yang mengisi waktu luang dengan arisan, atau kumpul bareng teman, selalu meyakinkan suami kalau ia tak macam-macam dengan mengirim foto ketika sedang di luar rumah.
Sampai akhirnya anak pertama mereka mulai masuk PAUD, saat itu yang rutin mengantar jemput ialah Iis. Setiap hari, Iis melakukan tugasnya dengan baik, merawat suami serta mengurus anak, semuanya ia laksanakan dengan baik.
Meski kadang kerepotan, bahkan sering kelelahan, tapi setiap kali minta tolong pada Oji menggantikan tugas antar jemput anak, suaminya selalu menolak. “Alasannya sibuk, enggak ada waktu,” katanya.











