Korban juga, kata Dwi, dihukum secara tidak wajar dengan cara tubuhnya ditutup menggunakan selimut lalu dipukul beberapa kali menggunakan sebilah bambu.
“Kan udah beres push up, adik saya suruh bangun terus ditampar sama kakak tingkatnya. Bagian belakang kepalanya juga dipukul pakai (sebilah-red) bambu, kirain bakalan udah setelah ditampar, ditendang gitu. Ternyata adik saya dibungkus pake selimut, dia ditutupin terus dipukulin pake bambu, itu di kamar. Posisinya di pojokan, sedangkan teman-temannyanya disuruh tidur semua sama si kakak tingkatnya,” tutur Dwi.
Akibat peristiwa itu, korban dilaporkan mengalami 17 luka lebam dari pelipis, mata, tangan, paha, betis dan bagian belakang kepalanya. Tidak terima, ayah korban melaporkan kejadian ini ke polisi.
“Bapak udah bikin laporan, harapannya semoga pelakunya dihukum setimpal. Soalnya adik saya sekarang trauma, dia jadi takut,” ucapnya.
Taufik Hidayat, kepala madrasah ponpes tersebut tak menampik soal peristiwa tersebut. Pihak pondok pun sudah mengakui kesalahan itu dan tak pernah membenarkan adanya bentuk sanksi yang melewati batas bahkan ke arah penganiayaan.
“Intinya kita menerima kesalahan, ada tindakan yang di luar kontrol kita sebagai pengasuh di pondok pesantren ini. Dan kita bersama keluarga pelakunya sudah mendatangi pihak keluarga korban untuk menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini,” katanya.











