“Serta berjanji akan mengendalikan anak buahnya untuk tidak akan melakukan tindakan anarkisme, tidak melakukan penghinaan dan atau menyudutkan posisi hukum Gubernur, tentu Bapak Gubernur akan secara arif dan bijaksana mempertimbangkan pencabutan laporan tersebut,” katanya.
Pada prinsipnya, tambah Busro, pihaknya selalu berkeyakinan permasalahan ini akan dapat segera diselesaikan dengan baik, apabila tidak ada keterlibatan para provokator dari berbagai tokoh diluar para pihak antara Gubernur dan Buruh.
“Pada prinsipnya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, yang terpenting adalah adanya komunikasi dan itikad baik para pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan prinsip saling menghormati dan menghargai para pihak satu sama lain, sehingga akan tercapai solusi terbaik yang mengakomodasi kepentingan para pihak demi tercapainya kondusivitas di Banten,” ungkapnya.
Pantauan Radar Banten, aksi solidaritas untuk perjuangan buruh masih terus dilakukan aktivis mahasiswa. Kemarin giliran aktivis dari berbagai kampus di Kota Serang yang melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Rabu (29/12).
Puluhan mahasiswa menuntut Gubernur Banten untuk menyadari kesalahannya, yang telah melaporkan aktivis buruh ke Polda Banten. “Kami aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Gempur Banten, kecewa atas sikap tangan besi dan watak arogan yang ditunjukan oleh seorang gubernur. Padahal permasalahan ini muncul akibat komunikasi Gubernur yang tidak baik kepada rakyatnya,” kata Jodi, juru bicara mahasiswa dalam orasinya.
Aksi solidaritas untuk buruh tersebut ditutup dengan tuntutan mahasiswa agar Gubernur Banten Wahidin Halim segera mencabut laporannya.
“Kami minta Gubernur Banten segera mencabut laporannya, bila dalam 2×24 jam tidak mencabut. Jangan salahkan ribuan mahasiswa dan buruh melakukan aksi besar-besaran di Kantor Gubernur Banten awal tahun baru mendatang,” tegas Korlap Aksi Rohmatul Latif mengakhiri aksi mahasiswa. (den/air)










