Perjumpaan Minah dengan Maman bermula di satu SMA yang sama. Saat itu, Minah mengenal Udin sebagai lelaki baik-baik dan pandai bergaul. Punya banyak teman dan ketua geng perkumpulan di sekolah, Udin punya wibawa dan kharisma tersendiri di mata Minah. “Waktu itu dia memang keren, enggak petakilan, dan baik,” ujar Minah.
Minah mengaku, dahulu Maman lah yang mengejar-ngejar cinta darinya. Perjuangan Maman tak mudah untuk menjadi kekasihnya. Selain karena Minah yang banyak diincar banyak lelaki, saat itu Tukiyem mengaku tak mau pacaran sebelum lulus. Katanya sih mau fokus belajar.
Tapi, ya namanya juga remaja yang masih labil dan mudah tergoda akhirnya Minah pun tak bisa menahan rayuan Maman. Waduh, terus pacaran nih? “Hehe ya begitulah, Kang. Habis dia orangnya romantis,” kata Minah.
Baru tiga bulan pacaran, Maman sudah langsung mengajak nikah. Padahal ia baru lulus SMA dan belum punya kerjaan. Tapi karena sudah ngebet, Tukiyem juga cuma bisa pasrah, mereka pun menikah.
Namanya pasangan baru, pasti sedang lengket-lengketnya. Apalagi saat itu cuaca memang sedang musim hujan, jadi, setiap pukul 08.00 WIB, keduanya pasti sudah masuk kamar. “Biasalah, menghangatkan badan,” ujarnya.










