RANGKASBITUNG – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan Indonesia bebas stunting pada 2024. Untuk itu BKKBN telah merumuskan tiga strategi program untuk melakukan percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyatakan, tiga program BKKBN, yaitu rencana aksi nasional percepatan penurunan stunting. Program ini mempertajam segala bentung kegiatan intervensi yang berada pada tingkat hulu. Tujuannya memprioritaskan pencegahan lahirnya anak tumbuh stunting. Kedua, memastikan keluarga mampu mempersiapkan kehidupan berkeluarga dan ketiga, dua program di atas didukung sistem pendataan informasi yang akurat, pendampingan surveilans keluarga beresiko stunting dan audit kasus stunting.
“Pemerintah memiliki target 2024 kita bebas stunting. Karena itu, BKKBN akan terus berupaya maksimal memberikan penyadaran kepada masyarakat dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan mereka tentang stunting,” kata Hasto Wardoyo kepada wartawan, Selasa (25/1).
Hasto berharap, upaya yang dilakukan pemerintah dapat berjalan dengan baik. Terpenting, mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan semua elemen masyarakat.
“Jadi, keluarga menjadi kunci dalam menekan angka stunting. Karena itu, kita harus memberikan pemahaman terhadap calon pengantin dan ibu-ibu PKK,” jelasnya.
Anggota DPR RI Ribka Tjiptaning menyatakan, akan mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. Program ini tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Tapi harus mendapat dukungan dari semua stakeholders di pusat maupun daerah.
“Saya siap mendorong dan mendukung kebijakan mengenai stunting ini melalui fraksi (PDI Perjuangan) di DPR RI,” jelasnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Ade Sumardi dan 250 orang peserta sosialisasi serta seminar di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.(Mastur)











